Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna diantaranya 82 spesies amfibi dan 71 spesies reptil. Kawasan ini juga memiliki peranan penting bagi penduduk asli, yaitu suku Dayak yang menempati desa penyangga disekitarnya. Kehidupan masyarakat suku Dayak memiliki kaitan erat dengan hutan, hal ini tercermin dari perburuan untuk pemanfaatan dan penggunaan sumberdaya alam sejak dahulu, diantaranya amfibi dan reptil. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan amfibi dan reptil oleh masyarakat di Desa Nusa Poring, sebagai desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Penelitian dilakukan pada Maret - April 2025 menggunakan metode wawancara semi terstruktur dengan penentuan responden melalui snowball sampling (n=15). Setidaknya tercatat 11 spesies amfibi dan 21 spesies reptil yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Nusa Poring. Tujuan pemanfaatan amfibi dan reptil berupa sumber makanan (100%), peliharaan (9.37%), dan penggunaan kepercayaan lokal. Berdasarkan daftar spesies amfibi dan reptil secara keseluruhan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, diperkirakan 13.41% spesies amfibi dan 29.57% spesies reptil yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Nusa Poring. Salah satu reptil yaitu Cakau (Manouria emys) yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan tujuh spesies yang tergolong terancam punah (vulnerable, endangered, dan critically endangered) berdasarkan IUCN Red List termasuk dalam daftar yang dimanfaatkan masyarakat. Kontak erat antara manusia dan satwa dalam proses pemanfaatan amfibi dan reptil akan meningkatkan risiko transmisi zoonosis yang dapat merugikan kesehatan manusia dan satwa lain. Pemanfaatan amfibi dan reptil oleh masyarakat hendaknya dapat diatur dan dilakukan secara bijaksana dan berkelanjutan agar keberadaan tetap lestari dan kesehatan terjaga.