Najwa Khoirunnisa
Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Gagal Jantung Kongestif (GJK) Najwa Khoirunnisa
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1011

Abstract

Introduction: Congestive Heart Failure (CHF) is an end stage clinical syndrome this is a major burden of cardiovascular morbidity and mortality in Indonesia. Although smoking is a known risk factor, primary evidence in Indonesia directly linking smoking exposure to the incidence of heart failure is still limited. This study aims to identify, critically evaluate, and systematically analyze all primary evidence in Indonesia (2020-2025) that assesses the quantitative relationship between smoking and the incidence of heart failure (HF) as well as related outcomes such as quality of life (QoL). Method: This study is a Systematic Literature Review (SLR) following the PRISMA 2020 guidelines. The search was conducted on five databases with a publication limit of 2020-2025. Only primary analytical studies that assessed the quantitative relationship between smoking and GJK or related outcomes were included. Discussion: Out of the initial 573 articles, 8 primary studies in Indonesia met the inclusion criteria. Evidence is divided into two main groups: (1) “direct relaionship” studies showing a strong risk signal between smoking and CHD (e.g. OR 4.868), and (2) “precursor pathway” studies consistently showing a relationship between smoking and hypertension and dyslipidemia (OR up to 6.067). Smoking history is also associated with a decline in quality of life in heart failure patients. Conclusion: Smoking exposure shows strong relationship with heart failure in the Indonesian population. However, the quantity and quality of direct priary evidence are still limited and dominated by cross sectional designs. Longitudinal cohort studies with objective biomarkers are needed to quantify the risk more accurately.
Jumlah dan Kombinasi Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif Rawat Inap di Instalasi Layanan Jantung Terpadu RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Najwa Khoirunnisa; Putri Damayanti; Syazili Mustofa; Asep Sukohar
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 3 (2026): IN PRESS
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i3.114347

Abstract

Gagal Jantung Kongestif (CHF) adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas, terutama  pasien dengan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Memahami pola faktor risiko ini dan kombinasinya penting karena mereka berkontribusi pada beban kardiometabolik yang berperan dalam gagal jantung. Untuk menentukan distribusi jumlah dan pola kombinasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi pada pasien gagal jantung kongestif yang menjalani rawat inap. Studi ini menggunakan desain potong lintang deskriptif dengan data sekunder berupa rekam medis pasien Gagal Jantung Kongestif (GJK) yang dirawat di Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek selama periode 2023–2024. Analisis dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi jumlah dan pola kombinasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Sebanyak 64 pasien memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas pasien memiliki lebih dari satu faktor risiko. Jumlah faktor risiko yang paling sering adalah tiga (28,1%), diikuti oleh empat (23,4%) dan dua (21,8%). Kombinasi faktor risiko yang paling umum adalah hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, obesitas, dan merokok, yang muncul pada 8 pasien (12,5%). Kombinasi lain menunjukkan variasi yang mencerminkan beban kardiometabolik yang berbeda. Semakin banyak dan kompleks kombinasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi, semakin tinggi kemungkinan gagal jantung kongestif. Pengendalian komprehensif terhadap faktor risiko diperlukan untuk mengurangi kejadian dan perkembangan gagal jantung.