Bahtiar, Roup
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemanfaatan Asap Cair Grade 2 dari Kulit Buah Kakao sebagai Biopestisida Febriani, Dinda Eka; Damayanti, Sagita Puji; Ardhana, Charmelia Dwi; Nagitara, Fabe Satria; Bahtiar, Roup
Jagad Tani: Jurnal Ilmu Pertanian Vol 3 No 1 (2026)
Publisher : Yayasan Jagad Aksara Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71333/73z89473

Abstract

Pendahuluan. Kulit buah kakao merupakan limbah perkebunan yang dihasilkan dalam jumlah besar dan berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan apabila tidak dikelola dengan tepat. Salah satu upaya pemanfaatannya adalah pengolahan menjadi asap cair melalui proses pirolisis yang dilanjutkan dengan destilasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi lama waktu proses serta rendemen asap cair kulit buah kakao grade 2. Metode Pengumpulan Data. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga November 2025 di Laboratorium Lapang dan Laboratorium Bioenergi Politeknik Negeri Jember dengan metode deskriptif kuantitatif dan tiga kali ulangan. Proses pirolisis dilakukan pada suhu 300–400°C untuk menghasilkan asap cair grade 3, yang selanjutnya dilakukan pemurnian melalui destilasi pada suhu 104–150°C untuk mnghasilkan asap cair grade 2. Parameter yang diamati meliputi durasi destilasi dan rendemen asap cair grade 2. Hasil dan Diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata waktu destilasi asap cair kulit buah kakao grade 2 sebesar 81,33 menit dengan rendemen mencapai 82,33%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa proses destilasi secara efektif dalam mempertahankan fraksi volatil hasil pirolisis, meskipun terjadi penurunan rendemen akibat pemisahan komponen berat. Selain itu, asap cair grade 2 yang dihasilkan mengandung senyawa aktif seperti asam organik dan fenol yang berkontribusi terhadap aktivitas antimikroba dan insektisida alami. Oleh karena itu, asap cair grade 2 memiliki potensi sebagai pestisida nabati (biopestisida) dalam pengendalian hama dan penyakit tehadap tanaman, serta sebagai pengawet non pangan karena kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab kerusakan. Simpulan. Proses destilasi asap cair kulit buah kakao grade 2 menghasilkan lama waktu destilasi rata-rata sebesar 81,33 menit dengan rendemen rata-rata sebesar 82,33%. Kulit buah kakao memiliki potensi sebagai bahan baku pembuatan asap cair grade 2 srta pemanfaatan limbah perkebunan secara berkelanjutan.
Identifikasi Hubungan antara Lama Waktu Destilasi dan Tingkat Rendemen Asap Cair Grade 1 dari Kulit Buah Kakao sebagai Alternatif Bahan Baku Pangan Ramah Lingkungan Ardhana, Charmelia Dwi; Damayanti, Sagita Puji; Febriani, Dinda Eka; Nagitara, Fabe Satria; Bahtiar, Roup
Jagad Tani: Jurnal Ilmu Pertanian Vol 3 No 1 (2026)
Publisher : Yayasan Jagad Aksara Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71333/8z7bx153

Abstract

Pendahuluan. Tingginya produksi limbah kulit buah kakao di Indonesia yang belum termanfaatkan secara optimal dan berpotensi mencemari lingkungan. Kulit buah kakao memiliki kandungan lignoselulosa sehingga berpotensi sebagai bahan baku asap cair melalui proses pirolisis. Asap cair hasil pirolisis masih mengandung tar dan senyawa berbahaya, sehingga diperlukan proses pemurnian lanjutan berupa destilasi untuk menghasilkan asap cair grade 1 yang lebih aman dan berkualitas. Proses destilasi dipengaruhi oleh beberapa parameter penting, diantaranya adalah lama waktu destilasi dan rendemen yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lama waktu destilasi dan rendemen asap cair grade 1 yang dihasilkan dari kulit buah kakao Metode Pengumpulan Data. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dirancang dengan satu perlakuan (tunggal) dan dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali. Hasil dan Diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses destilasi asap cair kulit buah kakao grade 2 menjadi grade 1, membutuhkan waktu destilasi sekitar 38-51 menit dan menghasilkan rendemen sekitar 81,88-89,00%.  Rentang waktu destilasi yang berbeda dipengaruhi oleh fluktuasi suhu pemanasan, sedangkan  variasi nilai rendemen dipengaruhi oleh lama waktu destilasi. Simpulan. Lama waktu destilasi untuk menghasilkan  asap cair kulit buah kakao grade 1 yaitu rata-rata 45.75 menit, serta menghasilkan rendemen rata-rata 86,97%.
Pengaruh Lama Waktu Pirolisis dan Rendemen Terhadap Produksi Asap Cair Grade 3 dari Kulit Buah Kakao Damayanti, Sagita Puji; Ardhana, Charmelia Dwi; Febriani, Dinda Eka; Nagitara, Fabe Satria; Bahtiar, Roup
Jagad Tani: Jurnal Ilmu Pertanian Vol 3 No 1 (2026)
Publisher : Yayasan Jagad Aksara Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71333/c76dxw50

Abstract

Pendahuluan. Kulit buah kakao merupakan limbah perkebunan yang jumlahnya melimpah, namun pemanfaatannya masih terbatas, sehingga berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan. Kandungan lignoselulosa pada kulit buah kakao menjadikannya berpotensi untuk dikonversi menjadi produk bernilai tambah, salah satunya asap cair melalui proses pirolisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lama waktu pembentukan dan rendemen asap cair grade 3 yang dihasilkan dari kulit buah kakao. Metode Pengumpulan Data. Penelitian dilakukan melalui proses pirolisis sistem tertutup. Bahan baku yang digunakan berupa kulit buah kakao sebanyak 17 kg dan dilakukan pirolisis menggunkan tabung reaktor pirolisis. Data yang dikumpulkan meliputi lama waktu pirolisis dan rendemen asap cair grade 3 yang dihasilkan. Hasil dan Diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu pirolisis sebesar 808,75 menit dan rendemen asap cair grade 3 yang dihasilkan juga menunjukkan beberapa variasi, dengan nilai rata-rata sebesar 23,97%. Simpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa kulit buah kakao berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan asap cair grade 3 melalui proses pirolisis. Lama waktu pirolisis berpengaruh terhadap pembentukan dan rendemen asap cair yang dihasilkan, sehingga menjadi faktor penting dalam efisiensi konversi biomassa.