ABSTRAKPenelitian ini mengkaji bias ideologi dan stereotip dalam pemberitaan kemiskinan di media daring yang cenderung melanggengkan ketidaksetaraan. Menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Teun A. van Dijk, penelitian ini bertujuan membedah tiga dimensi utama, teks (struktur makro, superstruktur, mikro), kognisi sosial (ideologi produsen), dan konteks sosial (dominasi kekuasaan). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data unggahan isu kemiskinan pada akun Facebook Antaranews dan Instagram Jawa Pos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana kemiskinan di kedua media tersebut bukan sekadar informasi, melainkan konstruksi realitas yang menghubungkan kebijakan pendidikan dengan keberhasilan ekonomi. Narasi ini berfungsi memperkuat posisi politik pemerintah dan menjustifikasi status quo di hadapan masyarakat digital.Kata Kunci: Analisis Wacana Kritis, Teun A. van Dijk, Kemiskinan & Media SosialABSTRACTThis study examines ideological biases and stereotypes in online news coverage of poverty, which often perpetuate social inequality. Utilizing Teun A. van Dijk’s Critical Discourse Analysis (CDA), this research dissects three key dimensions: text (macrostructure, superstructure, and microstructure), social cognition (the producer's ideology), and social context (power dominance). A descriptive qualitative method was employed, analyzing poverty-related posts from the Facebook account of Antaranews and the Instagram account of Jawa Pos. The findings reveal that discourse on poverty in these media outlets is not merely informative; rather, it is a constructed reality that links educational policy to economic success. Such narratives serve to bolster the government's political standing and justify the status quo to a digital audience.Keywords: Critical Discourse Analysis, Teun A. van Dijk, Poverty & Social Media