Generasi Z tumbuh di era digital dengan ketergantungan tinggi pada media sosial, yang memengaruhi pola pikir dan proses internalisasi nilai keagamaan. Penelitian ini menganalisis rendahnya pemahaman nilai Islam melalui faktor individu dan sistem pendidikan, menggunakan teori Bloom, Kohlberg, Prensky, dan Johnson untuk merumuskan pendekatan pembelajaran yang adaptif, kontekstual, dan relevan di era digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Data diperoleh dari jurnal dan artikel ilmiah melalui kata kunci terkait budaya scroll, literasi, nilai agama, Generasi Z, dan pendidikan agama Islam pada basis data Google Scholar, ScienceDirect, dan SAGE Journals (2021–2026). Dari 80 artikel, diseleksi 58 pendukung dan 6 utama, lalu dianalisis secara deskriptif melalui klasifikasi, interpretasi kritis, dan sintesis temuan. Scroll culture mendorong rendahnya literasi spiritual Generasi Z melalui pola konsumsi informasi singkat yang melemahkan refleksi dan internalisasi nilai Islam. Di sisi lain, sistem Pendidikan Agama Islam masih menghadapi kendala metode konvensional, kurikulum kurang integratif, dan minim inovasi digital. Solusi menekankan penguatan literasi individu, peran keluarga, reformasi kurikulum, peningkatan kompetensi guru, serta integrasi teknologi pembelajaran. Kesimpulannya, rendahnya pemahaman nilai Islam pada Generasi Z dipengaruhi oleh faktor individu dan sistem pendidikan yang saling berkaitan. Dominasi scroll culture membentuk pola pikir instan dan dangkal sehingga melemahkan refleksi serta internalisasi nilai. Sementara itu, pembelajaran PAI yang konvensional, kurang inovatif, dan minim relevansi memperparah kondisi tersebut. Solusi memerlukan penguatan literasi individu serta reformasi pendidikan yang kontekstual, dialogis, adaptif, dan berbasis pengalaman.