Sri Anggraeni
Department of Environmental Health, Poltekkes Kemenkes Surabaya, Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluation of the Effectiveness of Vector Control Programmes in Hospitals Using the CIPP Approach: A Case Study at Dr. Wahidin Sudiro Husodo General Hospital, Mojokerto City Anjar Pra Setyaningati; Ngadino; Sri Anggraeni; Setiawan; Elys Elisabet
Jurnal teknologi Kesehatan Borneo Vol 6 No 1 (2025): Jurnal teknologi Kesehatan Borneo
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jtkb.v6i1.373

Abstract

Environmental health is a critical factor in preventing vector-borne diseases in hospitals. The Dr. Wahidin Sudiro Husodo General Hospital in Mojokerto City has implemented a vector control programme in accordance with the Ministry of Health of the Republic of Indonesia Regulation No. 2 of 2023. However, monitoring results indicate that the larval index (LI) remains below the standard threshold of ≥95%, while rodent and cockroach densities exceed the established limits. This study aims to evaluate the effectiveness of the vector control programme using the CIPP model (Context, Input, Process, Product). The research method used was qualitative descriptive with SWOT analysis. Data were collected through observations and interviews with sanitation officers in 32 hospital service units. The evaluation results showed that the context, input, and process aspects met the requirements, with each receiving high scores. However, in the product aspect, weaknesses were still found in mosquito and rat population control. Based on the SWOT analysis, the programme is in the aggressive strategy quadrant, which emphasises the utilisation of internal strengths and external opportunities to improve vector control effectiveness. Key recommendations include expanding programme coverage to areas outside the hospital, strengthening the involvement of internal health workers, and modernising the technology-based monitoring system. With the optimisation of these strategies, it is hoped that the vector control programme will be more effective in maintaining environmental health standards in hospitals.
Physical House Condition and Individual Characteristics Influence the Incidence of Leprosy Dhea Vara Adellya; Narwati Narwati; Sri Anggraeni; Imam Thohari
International Journal of Advanced Health Science and Technology Vol. 4 No. 5 (2024): October
Publisher : Forum Ilmiah Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FORITIKES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35882/ijahst.v4i5.409

Abstract

Angka penemuan kasus tahun 2023 di Wilayah Kerja Puskesmas Singgahan sebesar 6,87 per 100.000 penduduk masih belum memenuhi target CDR <5 per 100.000 penduduk. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kusta yaitu faktor lingkungan dan karakteristik individu. Menganalisis hubungan kondisi fisik rumah tangga dan karakteristik individu dengan kejadian kusta di Singgahan Kabupaten Tuban tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan Kasus Kontrol. Penelitian ini melibatkan 15 kasus; 15 kontrol. Variabel bebas yang diteliti adalah kondisi fisik rumah tangga dan karakteristik individu; sedangkan variabel terikatnya adalah kejadian kusta; pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan observasi; analisis data menggunakan uji chi-square. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara kondisi fisik rumah tangga ( p-value = 0,023): kelembaban udara ( p-value = 0,014); luas ventilasi ( p-value = 0,014); dan kepadatan penduduk ( p-value = 0,009). Tidak ditemukan hubungan bermakna antara suhu ( nilai-p = 0,130) dan pencahayaan ( nilai-p = 0,264). Analisis bivariat juga menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik individu: jenis kelamin ( nilai-p = 0,023); pekerjaan ( nilai-p = 0,001); tingkat pendidikan ( nilai-p = 0,003); tingkat pengetahuan ( nilai-p = 0,027); dan riwayat kontak ( nilai-p = 0,000). Usia tidak menunjukkan hubungan bermakna ( nilai-p = 0,598). Ada hubungan antara kondisi fisik rumah tangga termasuk kelembaban; area ventilasi; kepadatan penduduk; dan karakteristik individu seperti jenis kelamin; pekerjaan; tingkat pendidikan; tingkat pengetahuan; dan riwayat kontak dengan kejadian kusta. Namun; tidak ada hubungan bermakna antara suhu; pencahayaan; dan usia terkait kejadian kusta. Disarankan untuk meningkatkan ventilasi sehingga suhu; kelembaban; dan pencahayaan terjaga dan untuk mengikuti langkah-langkah pencegahan campak dan partisipasi aktif dalam upaya pencegahan penyakit campak.