Produksi bawang putih di Indonesia menurun meski permintaan meningkat, diduga akibat menurunnya kualitas lahan bekas sawah yang keras dan padat. Untuk mengatasinya, diperlukan teknik olah tanah yang tepat dan penggunaan mulsa organik seperti jerami padi dan arang sekam untuk menjaga kelembaban tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan mengkaji dampak olah tanah dan aplikasi mulsa terhadap pertumbuhan bawang putih di dataran medium. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – September 2024 di kebun percobaan Pertanian Universitas Brawijaya, yang terletak di Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) yang terdiri dari: T1M1: tanpa olah tanah dan tanpa mulsa, T1M2: tanpa olah tanah dan mulsa jerami, T1M3: tanpa olah tanah dan mulsa arang sekam, T2M1: olah tanah minimum dan tanpa mulsa, T2M2: olah tanah minimum dan mulsa jerami, T2M3: olah tanah minimum dan mulsa jerami, T3M1: olah tanah maksimum dan tanpa mulsa, T3M2: olah tanah maksimum dan mulsa jerami, dan T3M3: olah tanah maksimum dan mulsa jerami. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan ANOVA taraf 5% dan uji BNJ taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan olah tanah minimum secara konsisten meningkatkan bobot umbi segar per tanaman, jumlah siung per umbi, bobot segar umbi per petak panen dan berat kering angin umbi bawang putih dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pada kombinasi perlakuan olah tanah minimum dan mulsa jerami menghasilkan bobot umbi segar sebesar 710,03 gram per petak panen dan 4,26 ton ha-1. Sehingga perlakuan kombinasi olah tanah minimum dan mulsa jerami memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik dan dapat diterapkan pada penanaman bawang putih pada dataran medium.