Wasting (gizi kurus akut) pada balita merupakan salah satu indikator malnutrisi yang paling berisiko meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Analisis situasi di wilayah kerja Puskesmas Kuala Lempuing menunjukkan prevalensi wasting sebesar 0,97% dengan skor prioritas USG 4,0, sehingga membutuhkan intervensi segera. Pendekatan intervensi gizi konvensional sering kali kurang efektif karena tidak menyasar faktor perilaku dan praktik pengasuhan. Kegiatan ini bertujuan untuk intervensi kombinasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal dan pendampingan keluarga (homecare) terhadap perubahan status gizi serta peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan (PST) ibu balita wasting. Intervensi ini melibatkan 5 balita wasting di wilayah Puskesmas Kuala Lempuing pada tahun 2025. Intervensi dilakukan selama 7 hari, meliputi pemberian PMT 2 kali sehari (Puding, Nugget, Dimsum) dan pendampingan keluarga (konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak/PMBA). Keberhasilan kegiatan diukur dengan perbandingan pengukuran antropometri serta pre-test dan post-test, perubahan pengetahuan, sikap, dan praktik (PSP) ibu. Intervensi menunjukkan peningkatan perilaku ibu, ditandai dengan kenaikan skor pengetahuan ibu hingga mencapai 100% pada post-test. Tindakan dan sikap juga meningkat pada seluruh responden. Namun ditemukan hasil pengukuran antropometri, dua dari lima balita mengalami penurunan berat badan. Dua balita mengalami penurunan berat badan yang diduga dipengaruhi oleh penyakit infeksi dan ketidakpatuhan pemberian makan. Kombinasi PMT berbasis pangan lokal dan pendampingan keluarga efektif meningkatkan PST ibu dan berkontribusi positif terhadap pemulihan status gizi balita wasting. Intervensi jangka pendek ini menunjukkan potensi yang baik, namun diperlukan durasi pendampingan yang lebih panjang serta integrasi dengan upaya pencegahan penyakit untuk mencapai pemulihan gizi yang optimal dan berkelanjutan.