Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGARUH VARIASI SUHU REAKSI MENGGUNAKAN KATALIS ABU SEKAM PADI TERHADAP YIELD DAN KUALITAS FISIK BIODIESEL Muhammad Shofian, Riza; Abidin, Asroful; Shofiyah, Rohimatush
Surya Teknika : Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Vol. 10 No. 1 (2026): Volume 10 No. 1 April 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48144/suryateknika.v10i1.2410

Abstract

Ketersediaan energi fosil yang semakin terbatas mendorong pengembangan sumber energi alternatif yang berkelanjutan, salah satunya biodiesel. Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel karena ketersediaannya melimpah dan tidak bersaing dengan kebutuhan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu reaksi terhadap yield serta kualitas fisik biodiesel yang dihasilkan dari minyak jelantah menggunakan katalis abu sekam padi tanpa modifikasi kimia. Proses pembuatan biodiesel dilakukan melalui reaksi transesterifikasi menggunakan metanol dengan rasio molar minyak terhadap metanol 6:1 dan massa katalis 5 gram. Variasi suhu reaksi yang digunakan yaitu 55°C, 60°C, dan 65°C dengan waktu reaksi 60 menit. Parameter yang dianalisis meliputi yield biodiesel, densitas, dan viskositas kinematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yield tertinggi diperoleh pada suhu 55°C sebesar 20,66%, kemudian menurun pada suhu 60°C sebesar 20,25% dan 65°C sebesar 19,73%. Nilai densitas biodiesel meningkat seiring kenaikan suhu reaksi dan pada suhu 65°C mencapai 857,9 kg/m³ sehingga telah memenuhi standar SNI 7182:2015, sedangkan pada suhu 55°C dan 60°C masih berada di bawah batas standar. Seluruh variasi suhu menghasilkan nilai viskositas di atas standar yang menunjukkan bahwa proses konversi trigliserida menjadi metil ester belum berlangsung optimal. Secara keseluruhan, rentang suhu 55–60°C memberikan kondisi operasi yang relatif paling stabil dalam menghasilkan biodiesel dengan yield lebih tinggi dan karakteristik fisik yang lebih baik dibandingkan suhu yang lebih tinggi.