Azizah, Indah Fitria Nilna
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Islam dan Rasionalitas dalam Wacana Digital: Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough terhadap Konten YouTube Raymond Chin Azizah, Indah Fitria Nilna; Sukawi, Zaenal
Jurnal Dakwah dan Masyarakat Vol 2 No 1 (2026): Jurnal Dakwah dan Masyarakat
Publisher : PT Anugerah Literasi Indomedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of digital media has changed the pattern of Islamic da'wah from a conventional approach to a digital discourse that is multimodal and dialogical. However, the practice of digital da'wah is still often dominated by emotional narratives with minimal rational argumentation. This condition raises the need for a study that highlights how Islamic rationality is constructed in the digital da'wah space. This study uses a qualitative method with Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis (AWK) approach which includes three dimensions of analysis, namely text, discourse practice, and socio-cultural practice. Primary data is in the form of YouTube Escape Episode 13 content entitled "Thoughts Are More Important! Don't Be Fooled by Feelings" which was hosted by Raymond Chin with the resource person Felix Siauw. Secondary data were obtained from scientific literature relevant to Islamic studies, rationality, and digital da'wah. The results of the study show that the discourse built in the content places reason as the main foundation in decision-making, while feelings are positioned as a supporting aspect that remains important but not dominant. The discursive strategy used combines Islamic postulates, philosophical references, and contemporary social examples to build rational legitimacy in the delivery of da'wah messages. This study emphasizes that digital da'wah has the potential to be a medium of rational Islamic construction that is able to answer the challenges of digital society. Through a discursive approach that balances reason and feeling, da'wah in the digital space not only functions as a means of disseminating teachings, but also as a space for the formation of a reflective and contextual Islamic way of thinking. Perkembangan media digital telah mengubah pola dakwah Islam dari pendekatan konvensional menuju wacana digital yang bersifat multimodal dan dialogis. Namun, praktik dakwah digital masih kerap didominasi oleh narasi emosional yang minim argumentasi rasional. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan akan kajian yang menyoroti bagaimana rasionalitas Islam dikonstruksi dalam ruang dakwah digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough yang mencakup tiga dimensi analisis, yaitu teks, praktik wacana, dan praktik sosial-budaya. Data primer berupa konten YouTube Escape Episode 13 berjudul “Pikiran Lebih Penting! Jangan Dibodohin Perasaan” yang dipandu oleh Raymond Chin dengan narasumber Felix Siauw. Data sekunder diperoleh dari literatur ilmiah yang relevan dengan kajian Islam, rasionalitas, dan dakwah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana yang dibangun dalam konten tersebut menempatkan akal sebagai fondasi utama dalam pengambilan keputusan, sementara perasaan diposisikan sebagai aspek pendukung yang tetap penting namun tidak dominan. Strategi diskursif yang digunakan mengombinasikan dalil keislaman, rujukan filosofis, serta contoh sosial kontemporer untuk membangun legitimasi rasional dalam penyampaian pesan dakwah. Penelitian ini menegaskan bahwa dakwah digital berpotensi menjadi medium konstruksi Islam rasional yang mampu menjawab tantangan masyarakat digital. Melalui pendekatan diskursif yang menyeimbangkan akal dan perasaan, dakwah di ruang digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran ajaran, tetapi juga sebagai ruang pembentukan cara berpikir Islam yang reflektif dan kontekstual.