Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Menjadi Perempuan Tambak Lorok: Konstruksi Gaya Hidup Perempuan Muslim Pesisir Safitri, Ririh Megah
JSW (Jurnal Sosiologi Walisongo) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jsw.2018.2.2.2731

Abstract

Identity and existence become a crucial issue lately, both in the factual context even cyberspace (cyber society). In this context lifestyle construction is the main issue to analysis the coastal Muslim women's identity. The study of the lifestyle construction of coastal Muslim women uses qualitative methodo­logies to obtain a comprehensive meaning regarding lifestyle. There are several influential factors in the process of forming individual lifestyles. The first one is the cultural, social and religious background that has been internalized in each individual through cultural values and social norms. The second factor is the environment where individuals live and socialize with the other society. In this context, the physical elements which include geographical, topographic and climate appearance are the main influences on the construction of individual lifestyles related to the adaptation process. Another influential factor is the media that the content is a lifestyle preference. Based on these factors, this study will focus on three points, there is the perception of coastal women on lifestyle, factors that influence the process of lifestyle construction and the meaning of coastal Muslim women’s lifestyle. There are three conclusions in this study regarding the hidden goals in consumption activities refer to saving material, representation of social status through lifestyle and indicators of self-existence.
Badau ‘di’ Indonesia : Kasus Daerah Perbatasan Indonesia yang Masih Terlantar Studi Kasus Kecamatan Badau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Ririh Megah Safitri
Manhaj: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol 6, No 1 (2017): Manhaj: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.923 KB) | DOI: 10.1161/mhj.v5i1.739

Abstract

Letak geografisnya yang bersandingan langsung dengan Lubok Antu (Serawak) menjadikan Badau sebagai wilayah perbatasan Indonesia-Serawak yang penuh dengan permasalahan sosial.  Pemenuhan kebutuhan vital atas pangan, pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat menjadi isu pertama dalam tulisan ini. Pada kenyataannya, situasi dan kondisi di perbatasan mengkonstruksi ketergantungan masyarakat Badau atas Lubok Antu (Serawak). Akses yang mudah, cepat dan jenis kualitas barang-jasa dari Lubok Antu (Serawak) menjadi point lebih yang melatarbelakangi ketergantungan tersebut. Persoalan vital lain yakni eksistensi perlindungan hukum bagi masyarakat perbatasan. Heterogenitas masyarakat Badau baik dari latar belakang etnis, agama dan stratifikasi sosial membuat potensi konflik semakin tinggi. Selain itu ketegangan antar negara bisa saja terjadi, khususnya konflik terkait pekerja (illegal-legal). Pada konteks ini, aparat negara harus berperan secara maksimal disamping peraturan dan aparat dari adat (Dayak – Melayu). Terpautnya jarak antara pusat pemerintahan dan Badau lantas berujung pada berbagai bentuk ketidakpastian kehidupan  yang dijalani oleh masyarakat Badau. Pendidikan dan jaminan kesehatan bagi anak dan remaja menjadi salah satu point penting dalam upaya pemberian kepastian bagi masyarakat perbatasan. Statusnya sebagai daerah yang terpelosok dan terpencil tersebut tidak bisa menjamin kelancaran distribusi baik barang, jasa maupun peraturan dari pemerintah kepada masyarakat di Badau.Kata Kunci : Perbatasan, Disfungsi, Negara, Badau, Lubok Antu, Kalimantan Barat, Serawak
Partisipasi Perempuan dalam Ranah Politik Lokal: Kajian Sosial Politik di Klaten Jawa Tengah Ririh Megah Safitri
Islamic Management and Empowerment Journal Vol 1, No 2 (2019): Islamic Management and Empowerment Journal
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/imej.v1i2.177-190

Abstract

Women's participation in the political sphere is a response from government policies related to 30%. women's quota. The dynastic political label attached to political activities in Klaten became an element of influence over the survival strategy undertaken by women cadres. This research uses descriptive qualitative method. The purpose of this study is to explain the participation of women political cadres related to representation, relations and power in the local political sphere. The results of the study showed that conditions that did not prioritize women were not created in political activities due to socio-cultural factors and stereotypes inherent in women, but the local political sphere was able to become a space for female political cadres to express their existence.
Potret Tumbuh Kembang Anak di Lokalisasi Gambilangu Kendal Ririh Megah Safitri
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 1, No 2 (2019): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.594 KB) | DOI: 10.29300/hawapsga.v1i2.2556

Abstract

Lingkungan sosial budaya menjadi faktor penting dalam proses tumbuh kembang anak karena menentukan karakter dan identitas yang melekat pada anak. Artikel ini merupakan kajian tentang proses tumbuh kembang anak yang tinggal di Lokalisasi Gambilangu Mlaten Atas. Eksistensi Lokalisasi Gambilangu berpengaruh signifikan terhadap proses tumbuh kembang anak karena letaknya yang terintegrasi dengan pemukiman masyarakat Mlaten Atas. Kajian ini menggunakan metode kualitatif guna mendapatkan pemahaman yang komprehensif terkait pengalaman dan pemaknaan masyarakat Mlaten Atas terhadap tumbuh kembang anak. Pemenuhan hak anak menjadi indikator yang digunakan dalam proses analisis atas proses tumbuh kembang anak di Lokalisasi Gambilangu Mlaten Atas. Terdapat dua simpulan utama dalam kajian ini, pertama yakni signifikansi citra atau label negatif Mlaten Atas karena praktek Lokalisasi Gambilangu. Faktanya citra negatif tersebut tidak hanya merujuk pada kondisi internal saja namun juga turut mengkonstruksi identitas dan karakte anak ketika berada di luar Gambilangu. Kondisi tersebut lantas berdampak pada minimnya interaksi antara anak Gambilangu dengan masyarakat secara keseluruhan. Kedua terkait dengan rendahnya perhatian orang tua terhadap proses tumbuh kembang anak. Ideal value yang terkonstruksi di Mlaten Atas merupakan hasil dari proses adaptasi dan negosiasi masyarakat dengan lingkungan sosial budayanya. Faktanya perhatian atas setiap tumbuh kembang anak khususnya merujuk pada perkembangan non-fisik menjadi salah satu hal yang dikesampingkan di Gambilangu.Kata Kunci : Anak, Tumbuh Kembang, Lokalisasi
UNDERSTANDING PEACEBUILDING FUNDAMENTALS IN SOUTHEAST ASIA: Intersection among Religion, Education and Psychosocial Perspective Imam Taufiq; Muhammad Makmun; Mishbah Khoiruddin Zuhri; Lucky Ade Sessiani; Ririh Megah Safitri
AL-TAHRIR Vol 22 No 2 (2022): Islamic Studies
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/altahrir.v22i2.6095

Abstract

This study tries to present a study on Understanding the basics of peacebuilding in Southeast Asia by bringing together three approaches, namely religious, educational, and psychosocial approaches. The focus of this research is, first, to identify an overview of the fundamental values and basic principles of peacebuilding adopted by peacebuilding organizations in Southeast Asia. Second, to identify approaches adopted by peacebuilding organizations that reflect the intersection of religious, educational, and psychosocial perspectives to build peace in Southeast Asian societies. This study finds that first, Peace in Southeast Asia is influenced by values and basic principles of harmony and peace-building such as spirituality, local wisdom, brotherhood or togetherness, deliberation, tolerance, ikhlas (voluntary), and equality. This value is embraced by peace-building organizations in Southeast Asia on the basis that on the one hand, each religion teaches about unity, while on the other hand, the spirit of unity will also make a significant contribution in the national context.