Background: Empathy is a fundamental competency for nursing students to build therapeutic relationships and effective communication. This ability is at risk of declining due to the phenomena of alexithymia and social media addiction. Although the impact is significant, the maladaptive use of social media as a coping mechanism for alexithymia often goes unnoticed in the context of nursing education. Identifying the relationship between social media addiction, alexithymia, and empathy is crucial. Purpose: To analyze the relationship between social media addiction, alexithymia, and empathy, as well as to examine the mediating role of alexithymia in nursing students. Method: This study used a quantitative cross-sectional design on 197 nursing students selected through simple random sampling. Data were collected using the SMAS-SF, TAS-20, and JSPE-R questionnaires, then analyzed using path analysis. Results: The majority of respondents experienced high levels of social media addiction (57.4%), alexithymia (39.1%), and high empathy (77.7%). The path analysis results proved that alexithymia acted as the main mediator, social media addiction was significantly related to alexithymia (p=0.000) and alexithymia was significantly related to empathy (p=0.002), while the direct relationship between social media addiction and empathy was not significant (p=0.206). Conclusion: This study proves that alexithymia acts as the primary mediator. Social media addiction indirectly reduces empathy through blunted emotional sensitivity. The implications of this study emphasize the need for attention to the phenomenon of social media addiction related to alexithymia in order to maintain empathy competence in nursing students. Suggestion: Further research is recommended to apply a longitudinal or experimental design to conduct further testing of the causal relationship between variables. Keywords: Alexithymia; Empathy; Nursing Students; Social Media. Pendahuluan: Empati merupakan kompetensi fundamental bagi mahasiswa keperawatan untuk membangun hubungan terapeutik dan komunikasi efektif. Kemampuan ini berisiko menurun akibat fenomena alexithymia dan kecanduan media sosial. Meskipun dampaknya signifikan, penggunaan media sosial maladaptif sebagai mekanisme koping terhadap alexithymia sering kali luput dari perhatian dalam konteks pendidikan keperawatan. Identifikasi keterkaitan antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati krusial untuk dilakukan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati, serta menguji peran mediator alexithymia pada mahasiswa keperawatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional pada 197 mahasiswa keperawatan yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner SMAS-SF, TAS-20, dan JSPE-R, kemudian dianalisis dengan path analysis. Hasil: Mayoritas responden mengalami kecanduan media sosial tingkat tinggi (57.4%), kondisi alexithymia (39.1%), dan memiliki empati yang tinggi (77.7%). Hasil path analysis membuktikan bahwa alexithymia bertindak sebagai mediator utama, kecanduan media sosial berhubungan signifikan dengan alexithymia (p=0.000) dan alexithymia berhubungan signifikan dengan empati (p=0.002), sementara hubungan langsung antara kecanduan media sosial dengan empati tidak signifikan (p=0.206). Simpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa alexithymia bertindak sebagai mediator utama dalam hubungan antara kecanduan media sosial dan empati. Kecanduan media berpengaruh secara tidak langsung melalui tumpulnya sensitivitas emosi. Implikasi studi ini menekankan perlunya perhatian dalam fenomena kecanduan media sosial yang berhubungan dengan alexithymia guna mempertahankan kompetensi empati pada mahasiswa keperawatan. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk menerapkan desain longitudinal atau eksperimental guna melakukan pengujian lebih lanjut mengenai hubungan kausalitas antar variabel. Kata Kunci: Alexithymia; Empati; Mahasiswa Keperawatan; Media Sosial.