Pertumbuhan populasi mahasiswa yang terus meningkat setiap tahunnya memerlukan penyediaan fasilitas ruang kuliah yang memadai, terjamin keamanannya, dan memberikan kenyamanan untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran. Konstruksi gedung kampus perlu dirancang dengan sistem struktural yang kuat dan dapat bertahan terhadap gaya lateral yang ditimbulkan oleh aktivitas seismik maupun hembusan angin, terutama mengingat keterbatasan area pembangunan yang mengharuskan konstruksi vertikal menggunakan material beton yang diperkuat baja tulangan. Standar yang digunakan dalam perancangan ini mengacu pada SNI 2847:2019 yang mengatur konstruksi beton dan SNI 1726:2019 yang membahas aspek ketahanan terhadap gempa bumi. Studi ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi proses perancangan bangunan kampus berlantai lima dengan mengimplementasikan konsep dual system. Langkah awal perancangan mencakup penetapan ukuran preliminer untuk komponen struktural seperti balok, kolom, pelat lantai, dan shear wall, yang kemudian divisualisasikan melalui aplikasi ETABS versi 20.3.0. Evaluasi struktural menggunakan pendekatan spektrum respons sesuai regulasi SNI 1726:2019 untuk mengukur performa bangunan, mengidentifikasi adanya irregularitas, dan menghitung beban internal pada tiap komponen. Aspek-aspek perilaku struktur yang dievaluasi mencakup deformasi, drift antar tingkat, dan kestabilan efek P-Delta. Berdasarkan temuan analisis, perancangan detail komponen struktural dilaksanakan mengikuti pedoman SNI 2847:2019. Kesimpulan penelitian memperlihatkan bahwa bangunan telah memenuhi batasan drift dan kestabilan P-Delta yang dipersyaratkan. Teridentifikasi adanya irregularitas pada bidang horizontal berupa torsional irregularity tipe 1a dan 1b serta re-entrant corner irregularity, yang mengakibatkan perlunya amplifikasi gaya rancang diafragma. Output perancangan menghasilkan berbagai variasi elemen struktural bagian atas beserta sistem pondasi dengan menggunakan tiang pancang sebagai komponen substruktur.