Transformasi digital di Indonesia telah mengubah pola konsumsi, termasuk pembelian air minum dalam kemasan (AMDK) melalui platform daring. Pertumbuhan e-commerce dan perubahan perilaku pasca-pandemi membuka peluang pemasaran baru, namun juga meningkatkan persepsi risiko lingkungan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap risiko lingkungan menjadi penting untuk membangun kepercayaan dan mendorong keputusan pembelian yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi niat pembelian AMDK secara daring dengan mengintegrasikan Theory of Planned Behavior (TPB) dan persepsi risiko lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan eksplanatori dengan pengumpulan data melalui survei kuesioner tertutup terhadap 385 responden di Kota Bandung menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbantuan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi risiko pencemaran air (WPRP) dan risiko informasi palsu (FIRP) tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi risiko, sikap, norma subjektif, maupun perceived behavioral control (PBC). Sebaliknya, persepsi risiko pencemaran kemasan tak terurai (NPPRP) berpengaruh signifikan terhadap sikap, norma subjektif, dan PBC, sehingga menjadi faktor yang lebih dominan dalam membentuk evaluasi dan tekanan sosial konsumen. Kualitas online hanya memengaruhi persepsi risiko. Sikap, norma subjektif, dan PBC terbukti sebagai prediktor utama niat membeli, sementara NPPRP memengaruhi niat melalui sikap dan norma subjektif.