Sajak “al-Masâ” merupakan salah satu sajak dalam ontologi puisi al-Jadâwil. Sajak ini terdiri atas 10 bait, masing-masing bait terdiri atas 6 baris. Berdasarkan apresiasi sajak dengan berpijak pada teori pembacaan Moody tahap pertama, diperoleh makna bagi pembaca, yaitu ajakan untuk selalu optimis menatap masa depan, menghilangkan kesedihan dan memikirkan kebaikan. Kehidupan ini indah atau tidak bergantung pada bagaimana kita menyikapi kehidupan dan mensyukurinya. Semua kebaikan dan kesenangan akan lenyap jika kita menyikapi hidup dengan pesimis dan kesedihan. Jadilah matahari yang selalu memancarkan sinarnya, atau bulan yang menyinari kegelapan malam, atau lautan yang penuh dengan ketenangan. Jadikan gubuk bagai istana dan duri bagai bunga. Jadilah anak sungai yang menyirami kebun-kebun di sekelilingnya. Jadilah bunga bermekaran dan bintang-bintang yang tak kan pernah terbenam. Berdasarkan teori pembacaan Moody tahap kedua, diketahui bahwa sajak al-Masâ` mengandung unsur-unsur struktur yang indah. Sajak ini didominasi oleh gaya bahasa retorika, berupa erotesis atau pertanyaan retoris. Gaya bahasa erotesis berupa pengajuan pertanyaan untuk memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki jawaban, karena jawabannya sudah tersirat dalam sajak ini. Menurut Ibnu Faris dalam kitabnya ash-Shâhabiy, gaya bahasa ini disebut istifhâam majâzi. Penyair sudah mengetahui jawaban terhadap apa yang ditanyakan, tetapi ia menghendaki makna lain dari pembaca berdasarkan hasil pemahamannya terhadap konteks bahasa ketika mengapresiasi teks. Dengan cara ini, masing-masing pembaca akan memberikan maknanya berdasarkan horison penerimaan pembaca, baik estetik maupun non-estetik yang dimiliki masing-masing. Kata kunci: al-masâ`, Iliya Abu Madhi, sastra Arab diaspora, moody
Copyrights © 2016