Kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan untuk di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Berdasarkan hasil wawancara bersama guru matematika dan siswa kelas X di SMA Negeri 1 Rantau, didapat informasi bahwa kemampuan berpikir kritis siswa belum pernah terukur, kemampuan siswa dalam mengemukakan ide dan pendapat akan pokok permasalahan matematika masih dalam golongan rendah, hal ini terlihat dari tidak adanya siswa yang bertanya atau berpendapat setelah guru menjelaskan, masih ada siswa yang kesulitan dalam perhitungan dan penghapalan rumus akibat selalu menunggu dan mengandalkan penjelasan yang diberikan oleh guru kemudian menyalin kembali apa yang guru tuliskan di papan tulis. Setiap ada pertanyaan, siswa cenderung menunggu jawaban dari guru karena kurang percaya diri untuk mengungkapkan ide hasil pemikirannya sendiri. Siswa juga kurang paham dalam pemecahan masalah, dalam hal ini siswa tidak tahu tujuan dari soal yang diberikan karena malu untuk bertanya sehingga sulit dalam penggunaan konsep yang telah dipelajari. Tujuan pada penelitian yang dilakukan adalah untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan model reciprocal teaching di SMA Negeri 1 Rantau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan populasi seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Rantau tahun pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 265 siswa. Teknik sampel menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi, serta wawancara. Teknik analisis data menggunakan rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa kelas X IPA 1 di SMA Negeri 1 Rantau termasuk ke dalam klasifikasi sedang pada pertemuan pertama, kedua, ketiga, dan keempat, dan tinggi pada pertemuan kelima dan keenam.Kata kunci: kemampuan berpikir kritis, reciprocal teaching
Copyrights © 2017