Di era modernisasi, pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tidak hanya bisa diam dan menjalankan metode dan sistem pembelajaran yang masih bersifat tradisional, jika tidak ingin tertinggal di belakang. Oleh karena itu, pesantren membutuhkan banyak perubahan dalam memenuhi tuntutan zaman. Berbagai ide dan opini pun bermunculan seiring dengan dimulainya modernisasi di dunia pesantren. Namun, pesantren tetap tidak bisa direkonstruksi secara penuh oleh paham modernisme di Indonesia. Karena pesantren, selain sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, juga merupakan aset budaya bangsa yang bersifat religius. Hal ini terlihat dari adanya unsur orisinalitas budaya, seperti bangunan pesantren, sistem asrama, beberapa jenis pengajaran yang diserap dari budaya daerah tertentu dan sebagainya. Jadi pesantren di era modernisasi menghadapi dilema yang sangat berat, di satu sisi ia harus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang menuntutnya meninggalkan sistem dan metode tradisional. Dan di sisi lain ia harus mempertahankan budaya luhur bangsa yang identik dengan religiusitas dan norma-norma agar tidak ikut dalam plagiatisasi budaya barat.
Copyrights © 2019