Untuk mendapatkan gambaran spasial suatu parameter lingkungan, diperlukan penentuan metode interpolasi spasial terbaik. Permasalahan muncul karena terdapat banyak sekali jenis metode interpolasi spasial. Untuk menentukan metode interpolasi yang paling sesuai, dapat dilakukan teknik validasi silang. Interpolasi juga penting dalam analisis curah hujan bulanan. Pada kasus interpolasi spasial 197 titik pengamatan curah hujan di Jawa Timur, validasi silang dapat dilakukan dengan menghilangkan sepuluh persen data secara bergantian. Penyusunan bahan validasi silang penting untuk dikembangkan agar terhindar dari terkumpulnya atau berbatasan langsungnya antar titik yang dihilangkan. Tujuan dari studi ini adalah menyusun bahan validasi silang dan menguji kehandalannya. Data koordinat lintang dan bujur dari 197 titik didapatkan dari Stasiun Klimatologi Malang. Peringkat data digunakan sebagai basis penyusunan. Dari sepuluh kelompok bahan validasi silang, tujuh (tiga) grup akan memiliki dua puluh (sembilan belas) data yang dihilangkan. Data yang dihilangkan dari kelompok pertama (sepuluh) adalah data bernomor urut digit terakhir satu (nol). Tiga pendekatan dilakukan untuk mendapatkan peringkat: koordinat saja, klastering, dan pemisahan. Klastering menggunakan jarak euklid tautan lengkap dengan variasi klaster 98, 65, dan 49. Metode pemisahan dilakukan dengan membagi terlebih dahulu titik ke dalam 20 (5x4) kotak. Untuk mengetahui penyebaran yang baik digunakan dua pendekatan, yaitu tidak adanya pertetanggaan terdekat dan jarak yang lebih jauh. Analisis visual dengan bantuan poligon voronoi, plot boks, dan indeks histogram digunakan. Dua indeks (SR dan IK) dikembangkan untuk mengetahui pergeseran distribusi. Pendekatan menggunakan pemisahan merupakan metode yang paling sesuai. Dengan menambahkan sepuluh modifikasi, didapatkan bahan validasi silang yang dapat digunakan untuk uji komparasi metode interpolasi.
Copyrights © 2018