Beberapa hari yang lalu melalui sebuah harian ibu kota, di dalam artikelnya seorang penulis mengetengahkan masalah mengenai adanya suatu yayasan yang mempunyai dana untuk membangun sekolah; akan tetapi karena keterbatasan dana yayasan tersebut dihadapkan pada satu pilihan harus membangun lima SD atau satu SMA yang diprioritaskan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyajikan 'bentuk pertolongan' yang lain bagi mereka yang tidak tertampung di sekolah baik pada usia SD, SMTP, SMTA maupun perguruan tinggi; tetapi tulisan ini mencoba mengadakan pendekatan di dalam mengambil keputusan dari dua alternatif di atas menuru data yang ada di tanah air ini.Saya sangat setuju dengan tanggapan "orang Jepang" terhadap yayasan tersebut (di dalam artikel tsb.) yang mengatakan bahwa kemajuan suatu negara berdiri di atas keterdidikan rakyat yang luas. Tetapi formula ini tidak boleh ditelan mentah-mentah karena akan menjebak untuk memutuskan lima SD yang diprioritaskan, atau dengan kata lain membangun lima SD dan tidak membangun SMA.Dengan memperhatikan segi administratif dan edukatif di dalam aspek kuantitatif maupun kualitatif pada sistem pendidikan kita maka pekerjaan memilih ini memang menjadi tidak mudah.
Copyrights © 1983