Seorang ahli biokimia yang berasal dari Spanyol, Federico Mayor Zaragoza hampir dapat dipastikan akan menduduki pucuk pimpinan tertinggi dewan eksekutif UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), sebuah lembaga di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bergerak pada bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Naiknya Mayor ke tahta UNESCO adalah menggantikan Amadou Mahtar M'Bow dari Sinegal yang selama 12 th telah memimpin organisasi yang suka menyumbang dana dan tenaga ahli ke berbagai negara ini. Tentunya sumbangannya selalu dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan yang bersangkut-paut langsung dengan pendidikan, ilmu pengetahuan serta kebudayaan. Pemilihan Direktur Jenderal sebagai pucuk pimpinan tertinggi organisasi pendidikan ini memang boleh di kata agak "tersendat-sendat", karena sebenarnya M'Bow sendiri masih mendapat duku-ngan dari banyak negara anggota namun justru menghadapi tantangan keras dari negara-negara Barat dan negara "super power"-nya, Jepang. Harus diakui bahwa Jepang merupakan negara "super power" bagi UNESCO, karena selama ini negara Matahari tersebut dikenal sebagai salah satu pemasok dana yang terbesar bagi UNESCO. Akan tetapi ketika M'Bow mendapat angin segar untuk duduk kembali dalam jabatannya, Jepang segera mengancam akan mundur dari organisasi pendidikan dunia tersebut bila M'Bow terpilih kembali dengan alasan manajemen keuangan yang kurang efektif selama kepemimpinannya dimasa yang lalu.
Copyrights © 1987