Sekitar dua puluh dua tahun yang silam, atau tepatnya pada awal tahun 1979 saya berjalan-jalan di pusat kota Amsterdam, Be-landa. Keramaian kota Amsterdam, meski tidak berkesan "crowded", tidaklah menarik bagi saya karena hal semacam ini dapat ditemukan di Jakarta atau kota besar lain di Indonesia. Yang justru menarik bagi saya adalah, suatu toko yang menjual segala peralatan untuk memuaskan hasrat seksual seseorang, dari peralatan kontrasepsi, alat kelamin sintetis, alat pemuas nafsu, novel dan majalah porno, kaset dan film biru, sampai dengan boneka hidup. Toko yang menjual peralatan seks, oleh masyarakat Belanda disebut dengan sex shop, seperti itu ternyata di Amsterdam ada beberapa jumlahnya. Bahkan belakangan saya tahu bahwa di kota-kota besar yang lainnya seperti Den-Haag dan Rotterdam, juga ada yang membukanya. Pada umumnya di samping dijual peralatan seks, di sex shop seperti ini juga diputar film-film biru di bioskop mini dengan masa putar empat menit, lima menit, sepuluh menit sampai dengan satu setengah jam. Pengunjung sex shop tersebut umumnya bersikap biasa-biasa saja; tidak ada perasaan malu atau "risih". Mereka datang ke sex shop sebagaimana datang ke toko swalayan di tengah kota atau ke toko kelontong di pinggir kampung. Ada yang muda, ada yang tua bahkan yang sudah gaek pun banyak yang berpartisipasi. Belakangan lagi saya tahu bahwa keberadaan sex shop yang mengedarkan kaset porno dan memutar film biru di bioskop mininya juga ada di hampir semua kota-kota besar di berbagai negara yang pernah saya kunjungi. Keberadaan sex shop ternyata tidak hanya di negara-negara Barat tetapi di negara-negara Timur pun juga demikian adanya. Di Jepang, Taiwan, Hong Kong, Cina, Malaysia, dan Singapura juga terdapat fasilitas seperti itu meski terkadang dengan bentuk dan cara yang berbeda. Di Shinjuku Jepang atau di Kowloon Hong Kong misalnya; dengan cara yang gampang dan terkadang dengan harga yang ringan akan mendapatkan berbagai fasilitas pornografi apabila kita memang memerlukannya. Semenjak dua puluh dua tahun yang lalu saya sudah "meng-hitung" kalau apa yang saya lihat di Belanda itu cepat atau lambat akan terjadi juga di Indonesia.
Copyrights © 2002