Pada harian ini sesungguhnya saya sudah beberapa kali menulis tentang sekolah unggul, antara lain "Mendesiminasi Sekolah Unggul Tamansiswa" (Pikiran Rakyat: 25/07/96), "Pendidikan Keunggulan Sekolah Dasar" (Pikiran Rakyat: 06/01/97) dan "Rahasia Keberha-silan Sekolah Unggul" (Pikiran Rakyat: 31/01/97); meski demikian tulisan ini tidak akan bersifat replikatif karena konsepsi keunggulan sekolah Tamansiswa yang menjadi bahasan tulisan ini memang sangat spesifik dan khas. Seperti kita ketahui pembicaraan mengenai sekolah unggul akhir-akhir ini kembali menarik minat masyarakat, terutama sekali setelah Tamansiswa mencanangkan dimulainya (kembali) operasional sekolah unggul di beberapa tempat. Tanggal 3 Juli 1997 yang lalu bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Ke-75 (tigaperempat abad) Perguruan Nasional Ta-mansiswa, Ketua Umum Yayasan Ki Hadjar Dewantara (Soesilo Soedarman) bersama-sama Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa (Ki Boerhanoeddin Lubis) telah mencanangkan dimulainya operasionali-sasi sekolah unggul SMU Tamansiswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta. Dimulainya sekolah unggul di lingkungan Tamansiswa sebenar-nya tidak istimewa bila dilihat dari realitas tentang banyaknya sekolah unggul di berbagai tempat sekarang ini. Meskipun demikian hadirnya sekolah-sekolah unggul di Tamansiswa ternyata sangat menarik minat masyarakat disebabkan ada kekhasan yang dikembangkan didalamnya. Hadirnya sekolah-sekolah unggul (yang baru) di lingkungan Tamansiswa sama sekali bukan karena kelatahan. Sebelum masyarakat kita "menghebohkan" hadirnya sekolah unggul di negeri ini maka terlebih dahulu Tamansiswa sudah merintisnya; misalnya SMU Tamansiswa Arun,Aceh (kerja sama dengan PT Arun) dan SMU Taruna Nusantara Magelang, Jawa Tengah (kerja sama dengan ABRI).
Copyrights © 1997