Pengamatan dan keluhan masyarakat terhadap menurunnya kualitas pendidikan menengah ternyata tidak saja mendapatkan respon dari kalangan pendidikan menengah itu sendiri, akan tetapi juga telah mendapak pada kalangan pendidikan tinggi; terutama sekali IKIP dan FKIP sebagai lembaga pendidikan tinggi kependidikan yang ditugasi memproduksi tenaga pendidik atau guru bagi kepentingan pendidikan menengah. Salah satu faktor yang dipandang cukup dominan terhadap fenomena pemerosotan kualitas pendidikan mene-ngah adalah rendahnya kualitas tenaga pendidik. Karena tenaga pendidik merupakan hasil produksi IKIP maka lem-baga ini sering dianggap ikut "bersalah". Berbagai kritik yang cukup tajam tentang kualitas lulusan IKIP akhir-akhir ini memang banyak muncul dipermukaan. Masalah utama yang menjadi titik pangkal kritik adalah banyaknya para tenaga pendidik yang kurang mengua sai "subject matter", atau materi pengajaran yang harus disampaikan kepada anak didik. Banyak hal yang terkait dengan masalah ini; termasuk didalamnya adalah "input" IKIP yang sering dikomentari sebagai "kelas dua", serta kurikulum IKIP yang dipandang kurang mendukung pemberian materi pengajaran atau bidang studi yang kualitatif. Salah satu cara yang akan ditempuh guna mengatasi masalah yang pertama, "input", adalah pembatasan secara tegas antara program kependidikan dengan non-kependidik an. Peserta Sipenmaru yang pilihan pertamanya adalah pro gram kependidikan tidak diperkenankan memilih program non-kependidikan untuk pilihan keduanya. Demikian pula dengan yang sebaliknya.
Copyrights © 1987