ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT

SEKITAR IDE PENDIDIKAN SEKS DI SEKOLAH

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
02 Jun 2010

Abstract

       Bertempat di Kampus Universitas Indonesia Depok  baru-baru ini digelar seminar sehari dengan tema "Narkotik, Seks, dan Kekerasan di Kalangan Remaja". Beberapa pakar tampil dalam seminar ini; dan dalam diskusi yang berkembang hampir tidak ada peserta yang tidak sependapat dengan pernyataan bahwa sekarang ini tingkat permisivitas remaja kita dalam soal seks makin tinggi saja.  Dengan ungkapan lain remaja kita makin permisif dalam perilaku seksualnya sehari-hari.       Tingkat permisivitas seks tersebut  antara lain ditunjukkan  dalam soal-soal fisik;  misalnya bersentuhan, bergandengan tangan, berpeluk ria, cium pipi, kissing, serta bercumbuhan.  Ternyata bukan itu saja, tingkat permisivitas tersebut juga ditunjukkan dalam hal berhubungan badan sebelum melaksanakan pernikahan (premarital sexual intercourse); baik dengan sesama teman maupun dengan orang-orang yang profesional, seperti pelacur.  Keadaan ini terdukung oleh "kebiasaan" destruktif yang berlaku pada sementara remaja kita seperti mengoleksi gambar wanita dan pria telanjang, memasang striker yang merangsang birahi, membaca buku porno, menonton film biru, dan sebagainya.       Sudah barang tentu  perilaku "menyimpang" tersebut  tidak dapat digeneralisasi bagi seluruh remaja kita.  Kita yakin masih banyak dan bahkan lebih banyak remaja kita yang masih "lurus" dan belum terkena polusi seksual.  Namun demikian yang menyedihkan adalah adanya sinyalemen dan pratanda mengenai makin banyaknya remaja sekolah kita yang terseret dalam arus seksual yang menyimpang; bukan saja soal bergandengan tangan dan cium pipi tetapi banyak remaja sekolah yang sampai melakukan hubungan badan sebelum nikah.       Dari ilustrasi konkrit tersebut akhirnya muncul ide dan pemikiran untuk memberikan pendidikan seks di sekolah. Adapun maksudnya agar supaya anak dan remaja sekolah kita tidak terjerat dalam perilaku seksual yang menyimpang.

Copyrights © 1996