PERNAHKAH anda melihat patung yang termasyhur dari Auguste Rodin: seorang manusia yang sedang tekun berpikir? Dialah lambang kemanusiaan kita, homo sapiens, makhluk yang berpikir. Setiap saat dari hidupnya, sejak beliau lahir sampai masuk liang lahat, dia tidak pernah berhenti berpikir. Demikian Jujun S. Suriasumantri mengawali penulisan bukunya dalam "ilmu dalam Perspektif" (1983). Demikianlah keadaan yang sesungguhnya. Manusia "si pemikir" ini akhirnya memang menjadi makhluk yang paling sempurna diantara ciptaan Tuhan lainnya. Tidak salah kalau Gilbert Highet (1972) menulis bahwa otak manusia bekerja seperti jantung yang tidak berhenti berdenyut, siang dan malam, sejak bocah hingga renta. "Gumpalan" yang beratnya kurang dari satu seteng-ah kilogram milik manusia ini tersimpan berbilyun-bilyun ingatan, kebiasaan, kemampuan, keinginan, harapan serta ketakutan. Didalamnya tersimpan pula pola, suara, perhi-tungan dan berbagai dorongan. Itulah sebabnya maka dalam sejarahnya yang singkat manusia mengubah wajah dunia dan dirinya sendiri. Perkembangan ilmu, pengetahuan dan teknologi --yang oleh George J. Mouly (1963) diisyaratkan dimulai sejak manusia lahir di bumi-- dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mengubah wajah dunia.
Copyrights © 1986