Berbicara mengenai kinerja pendidikan nasional suatu negara kiranya tidak ada yang lebih mengerikan terkecuali Indonesia. Po-sisi kita sekarang ini tidak hanya terpuruk dalam soal ekonomi dan politik, tetapi dalam soal-soal yang lain pun juga mengalami kondisi yang sama; termasuk didalamnya soal pendidikan. Suka tidak suka, kinerja pendidikan nasional kita saat ini memang memprihatinkan. Pada akhir tahun 1998 yang lalu Bank Dunia sudah membikin laporan pendidikan di Indonesia dengan judul "Education in Indonesia : From Crisis to Recovery", yang waktu itu saya mengusulkan agar judulnya diganti dengan "From Crisis to Crisis". Dalam laporan setebal 174 halaman dan terdiri dari tujuh bab tersebut meskipun tidak langsung tetapi secara jelas menggambarkan kegagalan pelaksanaan pendidikan nasional di Indonesia. Tingkat partisipasi pendidikan yang rendah, angka drop-out yang tinggi, angka me-lanjutkan yang terbatas, prestasi belajar siswa yang rendah, dsb, merupakan indikator gagalnya pendidikan nasional kita. Apa yang ditulis oleh Bank Dunia tersebut, meski saya juga diminta memberi justifikasi sebelum resmi dipublikasikan, sebenar-nya amat memalukan kita semua; namun demikian secara substantif memang banyak benarnya. Nyatanya: sampai kini tingkat partisipasi SLTP masih rendah meski wajib belajar sembilan tahun sudah dicanangkan sejak enam tahun lalu, angka putus sekolah masih tinggi meski kita sering berteriak-teriak untuk menyelamatkan masa depan anak-anak, dan banyak lulusan sekolah tidak bisa berbahasa internasional meski bertahun-tahun dikasih pelajaran Bahasa Inggris.
Copyrights © 2000