Sipenmaru 1988 baru saja berlalu; ujian tulis dan hasilnya telah dilalui dengan selamat. Tidak ada kejutan yang berarti dalam pengumuman hasil Sipenmaru 1988 yang baru lalu, seolah-olah segalanya berlalu diatas rel rutinitas akademik. Bila Sipenmaru tahun yang lalu hanya mampu meloloskan sebanyak 15,85 persen dari keseluruhan jumlah peserta, maka Sipenmaru tahun ini masih berkutat pada angka yang hampir sama, yaitu 16,27 persen. Pada tahun ini jumlah peserta Sipenmaru sebanyak 436.230 orang, sedangkan yang dinyatakan "lolos sensor" hanya sekitar 71.000 orang. Seandainya Depdikbud membuat peraturan,bahwa yang lolos Sipenmaru harus tertawa sekeras-kerasnya dan yang gagal harus menangis sekeras-kerasnya, maka sudah dapat dipastikan, bahwa suara tawa tersebut akan "ditelan" oleh suara tangis. Dapat kita bayangkan, setiap ada satu orang yang tertawa, di sekelilingnya akan dijumpai lima orang yang menangis. Bagi masyarakat Indonesia yang tidak terlibat secara langsung di dalam Sipenmaru, ternyata juga berhak untuk menangis kali ini. Mengapa? Karena secara keseluruhan hasil Sipenmaru, kali ini belum memuaskan, untuk tidak mengatakan mengecewakan masyarakat. Hal ini karena disebabkan oleh mayoritas
Copyrights © 1988