Kiranya tidak ada yang tak sependapat bahwa hasil Ebtanas, Evaluasi Belajar Tahap Akhir yang diselenggarakan secara Nasional, untuk tahun 1987 ini adalah masih sangat jauh dari harapan. Hal ini lebih terasa khususnya pada tingkat SMTA. Pada tanggal 27 Mei 1987 yang lalu hasil Ebtanas untuk tingkat SMTA diseluruh Indonesia telah diumumkan secara serentak. Akan tetapi di tengah-tengah suasana kegembiraan para siswa yang dinyatakan lulus dan selesai mengikuti pendidikan formalnya di SMTA, ternyata banyak para guru dan para tokoh pendidikan lainnya yang justru merasa prihatin. Kenapa ......? Karena mereka tahu bahwa sangat banyak diantara siswa yang "terpaksa" dinyatakan lulus tersebut tidak disertai dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang memuaskan. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, banyak para siswa SMTA yang telah dinyatakan lulus dan selesai mengikuti pendidikan formalnya meskipun rata-rata NEM yang dicapainya tidak mampu melampui 'limit'. Keadaan tersebut barangkali belum seberapa, namun yang lebih memprihatinkan adalah adanya sikap kesantaian terhadap NEM pada sebagian siswa; dalam artian mereka tidak peduli NEM yang dicapai adalah rendah, yang pokok lulus sekolah. Pada hal NEM sesungguhnya lebih menunjukkan kualitas akademis siswa bila dibanding dengan desisi kelulusannya itu sendiri.
Copyrights © 1987