Baru saja saya menerima kontak dari seorang sahabat yang kini sedang bermukim di Kota Melbourne, Australia. Dia itu adalah seorang dosen pada salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang sedang mengambil studi lanjut pada salah satu perguruan tinggi di Victoria, Australia; tepatnya di University of RMIT yang berlokasi di daerah Bundoora. Waktu mau masuk univeritas tersebut saya memang sempat memberikan referensi. Menurutnya, dia kini sedang mengalami tekanan batin yang luar biasa. Peristiwa Timor Timur yang mencuat dalam skala internasional dengan amat agresifnya pemerintahan Howard untuk "unjuk gigi" di wilayah "sengketa" itu benar-benar dirasakan akibatnya oleh para mahasiswa Indonesia di Australia. Berita-berita buruk tentang Indonesia di stasiun televisi Australia, kabar-kabar miring tentang Indonesia di koran-koran Australia, serta sikap sinis warga Australia benar-benar menjadi teror psikis bagi siswa dan mahasiswa Indonesia. Memang tidak semua warga negara Australia bersikap negatif terhadap orang-orang Indonesia di Australia; akan tetapi ternyata banyak kaum kulit putih nonAustralia, utamanya New Zealand dan Inggris, bersikap "miring" seolah-olah orang-orang Indonesia di Australia bukanlah merupakan manusia yang pantas diberi hormat. Pertanyaan tentang kapan kamu pulang ke Indonesia konon merupa-kan menu sehari-hari bagi sementara orang Indonesia yang belajar di Australia akhir-akhir ini. Akhir dari pembicaraan tersebut teman saya minta saran dan pendapat; apakah ia harus bertahan di Negara Kangguru tersebut sampai berhasil menyelesaikan studinya, ataukah sebaiknya harus cepat-cepat pulang ke tanah air dengan meninggalkan semua karya dan tanggung jawabnya.
Copyrights © 1999