Masalah kemiskinan sekarang ini sedang dan masih aktual setelah Biro Pusat Statistik (BPS) mengkomunikasi hasil surveinya. Hasil-hasil survei BPS yang "surprise", misalnya adanya sekitar 27 juta penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, serta yang menimbulkan polemik, misalnya mengenai lokasi atau kantong-kantong kemiskinan, itulah yang sebenarnya telah menjadikan ma-salah kemiskinan aktual dan terangkat ke permukaan. Meskipun hasil survei BPS tersebut di atas bukan tanpa kekurangan, baik yang menyangkut masalah kriteria (criterion) maupun kesahihan (validity), namun hasil sur vei tersebut tetap memberikan manfaat bagi kita. Dengan ditemukannya sejumlah (besar) penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan ditemukannya daerah-daerah miskin maka kepedulian masyarakat terhadap kompleksitas problematika kemiskinan terasa makin bertambah. Sejumlah pejabat rasanya makin serius memikirkan upaya mengentas kemiskinan; dialog serta seminar mengenai kemiskinan pun banyak digelar bagi/oleh kalangan ilmuan, praktisi, dan akademisi; sementara itu berbagai aktivitas sosial pun makin banyak yang terfokus pada masalah kemiskinan. Apakah masalah kemiskinan tersebut di atas memang masih sangat baru bagi bangsa Indonesia? Rasanya tidak! Secara historis bangsa kita sudah kaya dengan pengalaman miskin. Semenjak jaman prakemerdekaan sampai kini sangat banyak penduduk Indonesia yang "terlanjur" hidup miskin. Kalau pun sekarang ini masalah kemiskinan lagi naik daun itu semata-mata merupakan reaktualisasi dan repopulari-sasi masalah klasik yang lama "terpendam".
Copyrights © 1993