ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
1991: HARIAN YOGYA POS

NASIB KEBUDAYAAN DAERAH DI INDONESIA

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
06 Jul 2010

Abstract

Mulanya biasa saja; sebuah dusun yang terletak di daerah pedesaan yang tenteram dan nyaman, baik dalam pengertian fisik maupun nonfisik. Sosiabilitas warga dusun ini sangatlah tinggi; tolong-menolong dan bantu-membantu adalah pola hidupnya. Kalau ada keluarga yang susah maka bersama-sama mereka membantunya; bukan sekedar basa-basi sebagaimana yang terjadi pada kelompok masyarakat tertentu di kota (?), akan tetapi hal itu dilakukan dengan penuh rasa tulus dan religius. Setiap musim panen tiba mereka mengumpulkan dana untuk "bersih desa", mempertunjukkan wayang atau keseni-an tradisional lain yang mendidik. Hal ini dilaksanakan dalam suasana religi dan sosial yang tinggi; mensyukuri karunia Tuhan, dan bersuka-ria bersama sambil mempererat tali persaudaraan antar warga. Pendeknya kehidupan dusun ini cukup nyaman dalam pengertian yang seluas-luasnya. Tiba-tiba seorang warga dusun tersebut membeli antena parabola. Hampir setiap malam, bahkan sering juga siang hari, warga dusun menikmati sajian-sajian programa siaran luar negeri. Ingat, sudah menjadi kebiasaan warga dusun untuk ikut menikmati keberuntungan yang diperoleh oleh tetangganya; dalam hal ikut menikmati siaran tele-visi parabola contohnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Setelah ada parabola ternyata warga dusun tersebut memi-liki kebiasaan dan budaya baru; pemudanya senang meniru-niru gaya Madonna, anaknya senang meniru-niru Gaban atau Si Kura-Kura Ninja. Pola kehidupan orangtuanya pun mulai bergeser. Musim panen masih saja berlangsung tetapi aca-ra "bersih desa" tak pernah dilakukannya lagi.

Copyrights © 1991