ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT

MENDESIMINASI SEKOLAH UNGGUL TAMANSISWA

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
02 Jun 2010

Abstract

       Kebesaran dan keagungan Tamansiswa  yang dibangun semenjak tahun 1922 yang lalu ternyata tidak pernah luntur;  adapun salah satu indikatornya ialah setiap dilaksanakan kongres yang berperiode empat tahunan selalu saja diikuti secara cermat dan penuh perhatian bukan saja oleh keluarga Tamansiswa sendiri akan tetapi juga oleh masyarakat luas.  Masyarakat selalu menanti "political statement" apa yang dilontarkan pasca kongres.  Begitu juga halnya dengan Kongres XVII Persatuan Tamansiswa kali ini yang berlangsung dari tanggal 15 s/d 20 Juli 1996 di Yogyakarta.       Kongres kali ini sedianya akan dibuka secara langsung  oleh Pre-siden RI Soeharto,namun karena beliau "sakit" dan harus mengadakan medical chek-up di Jerman maka ditugaskan Menko Polkam Soesilo Sudarman untuk mewakilinya. Pembekalan peserta kongres antara lain dilakukan oleh Mendikbud Wardiman Djojonegoro serta Pangab Jen-deral Feizal Tanjung. Sedangkan penutupannya dilakukan oleh Menko Kesra Azwar Anas.        Kongres yang diikuti oleh 500-an peserta dari cabang-cabang Ta-mansiswa diseluruh pelosok Nusantara ini akhirnya membuat berbagai keputusan penting;  baik keputusan yang berlaku secara internal orga-nisasi maupun yang berlaku eskternal menyangkut kepentingan bangsa dan negara Indonesia.        Salah satu keputusan strategis ialah perlunya segera  didesiminasi sekolah unggul versi Tamansiswa di berbagai daerah yang berpotensi.  Sekolah unggul dipandang sebagai salah satu manifestasi dari konsepsi pendidikan keunggulan untuk mempersiapkan anak-anak bangsa yang berkualitas. Karena hanya dengan manusia-manusia yang kualitaslah maka bangsa ini akan sanggup bersanding dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Inilah "political statement" Tamansiswa; bukan soal politik praktis tetapi soal pendidikan bangsa.

Copyrights © 1996