Barangkali masih ingat pertengahan tahun 1996 silam kita pernah dikejutkan oleh dua publikasi ilmiah yang dilakukan oleh World Eco-nomic Forum (WEF) serta Institute for Management Development (IMD) mengenai daya saing ekonomi Indonesia di pasar internasional. Pasalnya adalah kedua lembaga yang relatif independen tersebut telah menempatkan posisi Indonesia jauh di bawah posisi Malaysia; hal itu berarti bahwa daya saing ekonomi Indonesia masih tidak sekompetitif daya saing ekonomi Malaysia. Oleh WEF Malaysia ditempatkan dalam kelompok sepuluh besar dengan Indeks Kompetisi (IK) 0,91 pada peringkat ke-10; sedangkan Indonesia dengan IK -0,38 pada peringkat ke-30. Sementara itu oleh IMD posisi Malaysia juga ditempatkan jauh di atas posisi Indonesia; yaitu Malaysia ditempatkan pada peringkat ke-23, sedangkan Indonesia pada peringkat ke-41. Baru-baru ini kita "dikejutkan" lagi oleh publikasi ilmiah lainnya; kali ini oleh Majalah Asiaweek tentang "daya saing" atau mutu pen-didikan tinggi. Majalah ini memuat 50 perguruan tinggi di Asia dan Australia berdasarkan urutan kualitas; dan dari urutan ini dapat disimpulkan bahwa kualitas perguruan tinggi kita masih jauh dari optimal. Secara umum kualitas perguruan tinggi di Indonesia ada di bawah Jepang, Australia, Hong Kong, bahkan Malaysia. Riilnya: University of Malaya dengan nilai 64,25 menempati peringkat ke-11, sedangkan ITB Bandung dengan nilai 59,46 hanya berada di peringkat ke-19. Di sisi lain Universiti Kebangsaan Malaysia (nilai 59,45) ada di peringkat ke-20,sementara UI Jakarta (49,45), UGM Yogyakarta (46,94), Unair Surabaya (45,96), dan Undip Semarang (43,77) masing-masing hanya berhasil menempati peringkat 32, 37, 38, dan 42.
Copyrights © 1997