Dalam tulisan ini persoalan perubahan kebudayaan dipertimbangkan dalam hubungan dengan modernisasi pertanian yang cepat antara kelompok-kelompok petani tradisional yang dahulu membuka hutan dengan cara tebas-bakar di Kabupaten Ngada di pulau Flores. Reaksi-reaksi mereka terhadap perubahan diperiksa ini dengan perbandingan antara dua kelompok yaitu Taka Tunga dan So'a, berkenaan dengan efek-efek produksi untuk ekonomi pasar moneter berpengaruh atas siklus upacara tradisional dalam hubungan dengan pertanian dan atas sistem hak milik tanah tradisional. Tulisan ini tidak hanya menyoroti keperluan pertimbangan faktor-faktor kebudayaan lokal sebelum pelaksanan program-program pembangunan, tetapi juga menyoroti cara pengertian faktor-faktor itu bisa menolong dengan ramalan reaksi terhadap perubahan dalam salah satu kelompok daerah.
Copyrights © 1998