Andrea Molnar
Northern Illinois University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Considerations of Consequences of Rapid Agricultural Modernization Among Two Ngada Communities Andrea Molnar
Antropologi Indonesia No 56 (1998): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam tulisan ini persoalan perubahan kebudayaan dipertimbangkan dalam hubungan dengan modernisasi pertanian yang cepat antara kelompok-kelompok petani tradisional yang dahulu membuka hutan dengan cara tebas-bakar di Kabupaten Ngada di pulau Flores. Reaksi-reaksi mereka terhadap perubahan diperiksa ini dengan perbandingan antara dua kelompok yaitu Taka Tunga dan So'a, berkenaan dengan efek-efek produksi untuk ekonomi pasar moneter berpengaruh atas siklus upacara tradisional dalam hubungan dengan pertanian dan atas sistem hak milik tanah tradisional. Tulisan ini tidak hanya menyoroti keperluan pertimbangan faktor-faktor kebudayaan lokal sebelum pelaksanan program-program pembangunan, tetapi juga menyoroti cara pengertian faktor-faktor itu bisa menolong dengan ramalan reaksi terhadap perubahan dalam salah satu kelompok daerah.
Di Pinggir Konflik: Kekerasan, Politik dan Kehidupan Sehari-hari di Indonesia Bagian Timur Nils Bubandt; Andrea Molnar
Antropologi Indonesia No 74 (2004): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

"Konflik-konflik berdarah yang menyertai Indonesia setelah jatuhnya Orde Baru cenderung terjadi di Indonesia bagian Timur, dengan pengecualian daerah Aceh. Saat ini banyak analisis akademis, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris yang telah mulai menguraikan aspek-aspek politis, sosial dan diskursif dari konflik-konflik di Timor Timur, Maluku, Maluku Utara, Poso, Kalimantan dan Papua. Penelitian-penelitian ini telah mulai meninggalkan penelaahan-penelaahan yang terlalu sederhana dan kerap sarat bias yang muncul segera setelah terjadinya konflik. Penelitian-penelitian tersebut mulai memberikan gambaran tentang konteks etnografis yang lengkap dan lebih rumit dari 'perang di Indonesia bagian Timur'. Gambaran ini memperlihatkan tercampur baurnya provokasi politik, ketegangan ekonomi, provokasi diskursif, dan adaptasi buletin lokal terhadap bentuk-bentuk identifikasi berdasarkan agama suku bangsa yang memberikan dorongan dan motif berbeda untuk ikut serta dalam setiap kerusuhan individual yang bergejolak di berbagai wilayah Indonesia Timur setelah tahun 1999. Walaupun setiap bentrokan/pertikaian (bahkan dalam satu wilayah konflik seperti Maluku atau Poso) seringkali bersifat unik secara politis dan pengalaman, mereka saling mempengaruhi satu sama lain. Setiap kerusuhan memupuk berkembangnya perasaan paranoia nasional yang disebarluaskan oleh media. Dalam prosesnya,setiap pertikaian/bentrokan menaburkan bibit-bibit kekerasan di tempat lainnya."