Abstrak
Bertolak dari realitas kehidupan,
wajah-wajah kita saat ini sedang terbakar api modernisasi, kita sedang
terombang ambing antara bahagia dan sengsara dalam konstelasi modernisasi di
segala lapangan. Nyatalah bahwa dampak modernisasi itu tidak mutlak membuat
manusia bahagia lahir dan batin. Ada indikasi bahwa konstelasi tersebut tanpa
disadari telah merajam ketenangan batin manusia. Kemajuan di segala lapangan
kehidupan telah membuat hakikat dan harkat manusia menjadi galau. Munculnya konfik yang
berkepanjangan membuat semua pihak resah. Kaum petani hidup sengsara sementara
yang kaya hidup berpestapora. Busung lapar, demam berdarah dan kurang gizi
merata di mana-mana ditambah lagi dengan tingkat kriminalitas yang hampir
setiap saat terjadi. Ada bapak memperkosa anak kandung, istri membunuh suami,
selingkuh di mana-mana, seseorang menjadi narapidana hanya karena pangkat,
harta, wanita dan lain-lain. Merebaknya perilaku yang kontradiktif, yakni sikap
mendua hati. Ada suami yang dermawan untuk orang lain, namun sangat perhitungan
terhadap istri dan anak-anak. Lembut dan simpati di depan teman dan atasan,
namun kejam kepada keluarga. Demikian pula sebaliknya sikap seorang istri
terhadap suaminya. Banyak tokoh masyarakat yang haus akan sanjungan dan tepukan
tangan orang atas kesuksesannya yang adakalanya dia dapatkan di atas
pengorbanan orang lain. Terperangkapnya manusia dalam konstelasi modernisasi
yang memprihatinkan itu dipicu oleh kemajuĀan teknologi yang tidak dijiwai oleh
religi, kesenjangan sosial, harapan yang yang melampui kemampuan, kekecewaan,
ketidakadilan, kekejaman, kemiskinan yang teramat parah atau kekayaan yang
berlimpah ruah, dan lain-lain. Sastra
adalah notulen kehidupan yang jujur. Makin sering seseorang termasuk
menelaah karya sastra, yang bernuansa psikologis, sosiologis dan religius,
semakin banyak pelajaran yang dapat diambil dalam mengatasi konflik pribadi,
masyarakat dan bangsa dalam kehidupan
nyata.
Copyrights © 2010