Ordik
Vol 7, No 3 (2009)

EVALUASI SISTEM PENILAIAN HASIL BELAJAR MAHASISWA DI UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

I Made Sriundy Mahardika, (Unknown)



Article Info

Publish Date
01 Dec 2009

Abstract

IPK mahasiswa Unesa (IKIP Surabaya) ditengarai rendah dimana reratanya hanya  2,56 dan ini berdampak pada menurunkan daya saing lulusan. Tahun 1999 dilakukan revisi terhadap sistem penilaian dengan harapan IPK lulusan menjadi lebih baik. Apakah tujuan tersebut tercapai? Dampak apa yang timbul akibat revisi tersebut?. Evaluasi terhadap sistem evaluasi hasil belajar di Unesa menghasilkan kesimpulan: (1) Komposisi komponen-komponen penilaian hasil belajar mahasiswa yang diterapkan di Unesa sudah tepat dengan catatan perlu dilakukan pendeskripsian yang lebih jelas pada sub-komponen partisipasi. Jika sulit dilakukan penilaian terhadap kualitas atau bobot pertanyaan maka sebaiknya komponen partisipasi dihitung hanya dari kehadiran (60%) dan frekwensi interaksi (40%) saja, (2) Upaya peningkatan IPK dengan mengubah KKM 56% nilai C justru menurunkan kualitas lulusanntuk meningkatkan kualitas lulusan maka rentangan konversi nilai perlu direvisi ke tingkat yang lebih tinggi. Menurut sistem yang berlaku sekarang  mahasiswa yang tingkat ketuntasannya  . Karena semua prodi di Unesa sudah menerapkan kurikulum berbasis kompetensi, maka KKM perlu diubah menjadi 75% untuk nilai C, (3) kegiatan evaluasi sebaiknya dilengkapi juga dengan selalu mengukur tingkat efektivitas perkuliahan, jangan-jangan IPK rendah lebih disebabkan karena perkuliahan yang tidak efektif, (4) Penghitungan Nilai IPK perlu ditinjau kembali, dengan mempertimbangkan waktu tempuh sebagai fungsi pembagi, karena banyak IPK tinggi dicapai mahasiswa ternyata dicapai dengan mengulang matakuliah beberapa kali, (5) Khusus untuk matakuliah yang terdiri dari teori dan praktek perlu melakukan adaptasi.

Copyrights © 2009