Kurang diminatinya pelajaran sejarah menjadi satu masalah serius bagi pendidikan di Indonesia. Pelajaran sejarah sesungguhnya sangat berfungsi sebagai pembentuk karakter generasi muda. Masalah ini tentu menggambarkan kondisi yang rawan bagi keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Pemerintah dengan cepat merespons masalah ini dengan cara memposisikan mata pelajaran sejarah sebagai unsur utama yang diperhatikan dalam Kurikulum 2013. Pada Kurikulum 2013, pelajaran sejarah terbagi menjadi dua bagian: Sejarah Indonesia dan Sejarah (Peminatan Ilmu-ilmu sosial). Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan jam mata pelajaran sejarah yang meningkat lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya. Kurikulum 2013 dalam pembelajarannya menggunakan pendekatan ilmiah (scientific appoach) yang didalamnya mencakup komponen: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Hal ini memungkinkan lebih leluasanya berbagai materi sejarah diajarkan kepada peserta didik. Salah satu diantaranya ialah materi sejarah lokal. Sejarah lokal merupakan sejarah yang terjadi dalam hal spasial (ruang) lokalitas tertentu dalam suatu komunitas masyarakat dengan temporal (waktu). Kejadian ini dapat terjadi secara bersamaan dengan sejarah nasional. Sejarah lokal mengenai gerakan sosial di Banten menjadi satu diantara materi yang kurang diperhatikan sebagai bagian integral dalam periodesasi perjuangan kemerdekaan pada Sejarah Nasional. Pembelajaran sejarah dengan materi sejarah lokal lebih mudah dipahami peserta didik, karena dapat melihat secara langsung realitas kehidupan sesungguhnya di lingkungan terdekat. Antara peserta didik, kehidupannya masa kini dan peristiwa sejarah akan membentuk sebuah ikatan identitas yang memudahkan pewarisan nilai-nilai. Pewarisan nilai dalam peristiwa gerakan sosial Kyai dan petani di Banten akan lebih mudah dalam membentuk nilai-nilai positif, seperti patriotisme dan cinta tanah air.
Copyrights © 2018