Berbagai penelitian tentang pemeliharaan dan penyisihan bahasa yang telah dilakukan di berbagai wilayah atau negara di dunia ini menunjukkan bahwa bahasa-bahasa yang digunakan oleh kaum minoritas dan kurang berpengaruh (berprestise) secara ekonomi dan politik di lingkungan komunitas itu sendiri terancam oleh bahasa-bahasa yang ada di sekitarnya. Kaum minoritas pemilik bahasa yang sedang mengalami penyisihan ini tidak menyadari jika bahasa asli mereka, warisan nenek-moyangnya, akan segera punah. Proses penyisihan bahasa bermula pada saat terjadinya kontak bahasa. Kontak bahasa dapat terjadi karena penjajahan, perpindahan penduduk, politik bahasa oleh suatu negara, dan karena kelompok masyarakat berada pada perbatasan dua wilayah (negara atau kota). Keadaan ini menyebabkan masyarakat dwibahasa atau multibahasa. Kemampuan suatu komunitas berdwibahasa lambat-laun akan kembali menjadi ekabahasa jika pada praktik kehidupan sehari-hari dengan masyarakat lain hanya menggunakan satu bahasa. Apabila bahasa yang digunakan itu ternyata adalah bahasa kaum pendatang atau bahasa hasil politik bahasa, tak dapat dihindarkan akan terjadinya kepunahan bahasa, yaitu bahasa ibu penduduk asli. Hasil pengkajian juga menunjukkan bahwa pemeliharaan (penyelamatan bahkan pengembangan) bahasa terbukti berhasil melalui lembaga pendidikan, yaitu pembelajaran bahasa. Persoalan ialah mengapa bahasa kesukuan (etnik) tidak mendapat perlakuan masuk ke dalam lembaga pendidikan sebagai mata pelajaran?Kata kunci: Pembelajaran bahasa, pemeliharaan bahasa
Copyrights © 2010