Kandidiasis  vagina  dapat  menghasilkan  morbiditas  signifikan  terhadap  kualitas  hidup.  Stresor  dapat  mempengaruhi sistem imun ini melalui efek kerja kortisol, namun mekanismenya masih belum jelas. T ujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  apakah  peningkatan  kadar  kortisol  karena  stres  kronis  akan  meningkatkan  Kandidiasis  vulvovagina  tikus melalui  peningkatan  kadar  PGE  dan  penurunan  kadar  BAFF ,  IL-21,  serta  kadar  sIgA.  Rancangan  penelitian  ini  adalah 2eksperimental  laboratorik  post  test  only  control  group  pada  tikus  betina  Rattus  norvegicus  strain  Wistar .  Tikus  dibagi dalam kelompok kontrol positif dan negatif , kelompok perlakuan 'electric foot shock' dan paparan predator kucing pada tiga  waktu  pengamatan.  Setelah  7,  14  dan  28  hari  (kronis),  dilakukan  pemeriksaan  kadar  kortisol  plasma,  BAFF ,  IL-21,  PGE-2,  sIg  A dengan  ELISA dan  Koloni C.albicans  mukosa dengan  pengecatan  kimia.  Analisis data  diuji menggunakan  uji t  tidak berpsangan, One Way ANOVA,  Kruskal Wallis,  dan analisis jalur .  Hasil pada penelitian ini  menunjukkan bahwa pemberian rangsang  listrik  dan  paparan  predator   selama  7,  14  dan  28  hari  meningkatkan  kadar  kortisol,  PGE2,  jumlah  kandida, jumlah sel radang pada biopsi mukosa vagina, serta menurunkan kadar IL21, BAFF dan sIgA. Analisis jalur menunjukkan stres fisik  dan psikis kronis meningkatkan kortisol yang memiliki efek tidak  langsung  terhadap jumlah  Kandida melalui penurunan BAFF dan IL-21 sebesar -0,565 dan -0,447 yang akan mempengaruhi sIgA sebesar 0,460 dan 0,364 sehingga jumlah  Kandida  meningkat.
Copyrights © 2012