Avatara
Vol 7, No 1 (2019)

HARMONISASI HUBUNGAN ANTARA ETNIS TIONGHOA DENGAN ETNIS LAINNYA DI SURABAYA PADA MASA KERUSUHAN MEI 1998

ANDRE ALAMSYAH, DEA (Unknown)
MASTUTI PURWANINGSIH, SRI (Unknown)



Article Info

Publish Date
23 Jan 2019

Abstract

Kerusuhan pada bulan Mei 1998 menjadi puncak dari aksi anti Tionghoa, kerusuhan Mei 1998 terjadi di kota-kota besar yang ada di Indonesia seperti di Padang, Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dll. Di Surabaya awalnya massa yang terdiri dari sebagian besar mahasiswa dan ada juga warga melakukan aksi turun ke jalan yang tujuannya untuk menuntut adanya reformasi, namun karena masa yang turun ke jalan jumlahnya mencapai ratusan ribu sehingga sulit mengendalikan. Kondisi di Kota Surabaya tergolong aman, sebab hampir tidak ada aksi penjarahan, pemerkosaan, dan kekerasan terhadap etnis Tionghoa Surabaya. Ini menjadi perbedaan antara Surabaya dengan kota-kota lainnya, perlakuan warga Surabaya terhadap orang etnis Tionghoa membuat kondisi Surabaya tetap aman sehingga hampir tidak ada aksi penjarahan, pemerkosaan dan kekerasan terhadap orang etnis Tionghoa.Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Mengapa Etnis Tionghoa di Surabaya mendapatkan perlakuan yang baik dari warga Surabaya. (2) Mengapa warga Surabaya memiliki toleransi besar terhadap orang etnis Tionghoa.Hasil penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut, perlakuan yang baik sekali warga Surabaya terhadap orang etnis Tionghoa di Surabaya karena sejak masa kolonial hubungan antara warga Surabaya, Madura, Arab, dan Tionghoa sudah terjalin dengan sangat baik sekali. Mereka saling berampingan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dampak yang ditimbulkan adalah antara etnis Jawa, Arab, Madura, dan Tionghoa saling memiliki rasa toleransi satu sama lainnya. Bahkan ketika masa Orde Baru, etnis Tionghoa yang terpaksa harus menghilangkan ketionghoaannya kemudian mempelajari budaya warga Surabaya justru semakin memperkuat rasa toleransi antara warga Surabaya dan etnis Tionghoa.Sikap toleransi warga Surabaya terhadap orang etnis Tonghoa begitu besar sehingga orang etnis Tionghoa pada saat terjadinya kerusuhan Mei 1998, warga Surabaya memberikan perlindungan terhadap orang etnis Tionghoa agar tidak dijadikan objek sasaran masa. Sikap toleransi dari warga Surabaya ini dikarenakan warga Surabaya sendiri tidak menganggap orang etnis Tionghoa sebagai orang asing, warga Surabaya menganggap orang etnis Tionghoa merupakan warga Surabaya juga sehingga mereka etnis Tionghoa juga berhak mendapatkan apa yang didaptkan oleh warga Surabaya pada umumnya. Kemudian toleransi warga Surabaya begitu besar terhadap orang etnis Tionghoa karena hubungan keduanya sudah berjalan sangat lama sekali dan tidak jarang antara warga Surabaya dan etnis Tionghoa ada yang memiliki kedekatan emosional.Kata Kunci : Etnis Tionghoa, Surabaya, Kerusuhan Mei 1998, Toleransi

Copyrights © 2019






Journal Info

Abbrev

avatara

Publisher

Subject

Arts Humanities Education

Description

E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas ...