Jurnal Ketahanan Nasional
Vol 25, No 2 (2019)

Memperkuat Ketahanan Masyarakat Berbasis Social Capital Pada Era Otonomi Desa (Studi Di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang)

Mochammad Rozikin (Universitas Brawijaya Malang)



Article Info

Publish Date
23 Aug 2019

Abstract

 ABSTRACTThe 1997 reforms brought changes in regional governance from a centralized model to decentralization. The village autonomy Law number 6 year 2014 was showed a new era where the existence of villages was appreciated as the smallest unit of government system in Indonesia, with all its diversity as local wisdom to strengthened community resilience nationally starting from the village. This study used descriptive qualitative method, with the analysis step according to Bogdan and Biklen (1982), carried out 2 (two), namely the first stage of data analysis during the field and second analysis of data after collected. The research location of Pandansari village, Ngantang District, Malang Regency, was affected by the Mount Kelud eruption which affected the resilience of rural communities. Data was taken by interview techniques, observations and supporting documents. The results of the study showed that after the impact of the Mount Kelud disaster the resilience of the community was quite disturbed, but it could return to normal with the efforts to developed resilience of rural communities by integrating social capital that existed in the community. Thus, Social capital that developed in the community contributed to developed community resilience after natural disasters.ABSTRAKReformasi tahun 1997 membawa  perubahan tatakelola pemerintahan daerah dari model sentralisasi kepada desentralisasi. Kemudian dalam otonomi desa terbit Undang-Undang nomor 6 tahun 2014. Hal ini menunjukkan era baru dimana keberadaan desa diapresiasi sebagai unit terkecil system pemerintahan di Indonesia, dengan segala keragamannya sebagai kearifan lokal, untuk memperkuat ketahanan masyarakat secara nasional yang dimulai dari desa.Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kualitatif , dengan langkah analisis menurut Bogdan dan Biklen (1982), dilakukan 2 (dua) yaitu  tahap pertama analisis data selama di lapangan dan kedua analisis data setelah terkumpul. Lokasi penelitian Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, yang terkena dampak bencana letusan Gunung Kelud yang berpengaruh terhadap ketahanan masyarakat desa. Data diambil dengan teknik wawancara, observasi dan dokumen pendukung.Hasil penelitian menunjukkan pasca dampak bencana Gunung Kelud ketahanan masyarakat cukup terganggu, tetapi dapat kembali normal dengan adanya upaya pengembangan ketahanan masyarakat desa dengan mengintegrasikan modal sosial (social capital) yang ada pada masyarakat. Modal sosial yang berkembang pada masyarakat memberikan kontribusi dalam mengembangkan ketahanan masyarakat pasca bencana alam.

Copyrights © 2019