Pemanfaatan teknologi informasi ditandai dengan muculnya bermacam inovasi, salah satunya Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) yang diinisiasi oleh Ditjen Perbendaharan. Inovasi tersebut telah digaungkan sejak lama dan direncanakan akan diterapkan pada seluruh instansi di Indonesia. Dalam implementasinya, masih ditemui beberapa permasalahan diantaranya adalah penundaan waktu implementasi, minimnnya informasi serta tingkat pemahaman dan pengetahuan di level pengguna yang masih belum optimal. Penelitian ini mencoba memahami proses difusi inovasi aplikasi SAKTI dan melihat bagaimana proses adopsi inovasi di KPP Sleman. Menggunakan teori difusi inovasi, konsep-konsep dari elemen difusi inovasi dan proses adopsi inovasi disajikan untuk mendapatkan gambaran proses difusi dan adopsi inovasi SAKTI di KPP Sleman. Metode dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SAKTI dibutuhkan dalam pengelolaan keuangan di KPP Sleman yang penyebarannya melalui berbagai macam saluran komunikasi dengan pendampingan sebagai kunci keberhasilan implementasi. Percepatan difusi didukung dengan sifat homophily antara agen perubahan dan adopter serta lingkungan eksternal dan internal yang mendukung. Kendati begitu, masih ditemui beberapa persoalan pada inovasinya, saluran komunikasi serta kecakapan trainer. Pada proses adopsi, keuntungan dari sisi praktek dirasakan adopter lebih dominan ketimbang dari sisi keuntungan ekonomis. Keputusan inovasi bersifat otoritas karena cenderung dipengaruhi oleh peran pimpinan, sedangkan pada tahap implementasi masih ditemui beberapa prosedur yang tidak sesuai dengan yang seharusnya dilakukan. Oleh sebab itu, evaluasi atas program SAKTI perlu dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan sebagai pemilik program terutama dalam kaitannya dengan inovasinya sendiri, proses pelatihan, kompetensi trainer, dan media komunikasi yang digunakan.
Copyrights © 2019