Tasawuf telah menjadi istilah bagi masyarakat yang tumbuh berdasar perkembangan situasi dan kondisi yang terjadi. Sehingga kita menemukan makna tasawuf yang berbeda dalam setiap kurun waktu, bahkan hal itu bisa jadi dari setiap orang sufi juga mengalami perbedaan. Lebih dari itu, sangat mungkin terjadi seorang sufi yang satu dengan yang lain dalam satu kurun juga mempunyai definisi yang tak sama. Sebab, masing-masing sufi itu menuturkan definisinya sesuai apa yang dirasakan dalam eksperimennya, maupun intuisi (dzauq) yang diterima.Perkembangan tasawuf dimulai setelah abad pertama Islam sebagai sebuah perlawanan terhadap semakin meningkatnya penyelewengan-penyelewengan dan perwujudan-perwujudan yang keliru dari ajaran-ajaran Islam, terutama yang dilakukan oleh penguasa saat itu. Para penguasa dan raja-raja sering kali menggunakan nama Islam untuk melegitimasi tujuan-tujuan mereka. Atau mengesampingkan aspek-aspek ajaran-ajarannya yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan atau gaya hidup mewah mereka. Sejak itu dan seterusnya, sejarah mencatat adanya kebangkitan kembali, pembaharuan, dan militansi yang semakin berkembang diantara kelompok-kelompok muslim yang tulus diseluruh wilayah Islam yang luas. Bangsa Arab pra Islam melakukan ritual kepercayaan mereka dengan melakukan gerakan berputar disela-sela ritual mengelilingi Ka’bah. Gerakan ini dibarengi dengan tarian, nyayian, teriakan-teriakan dan seruan-seruan yang membentuk sebuah festifal. Setelah kedatangan Islam maka Thawaf disekeliling Ka’bah ditetapkan dan dibuanglah tradisi menari, menyanyi, dan berteriak, bahkan mengharamkannya. Dan diganti dengan doa-doa yang baru yang sesuai dengan kedudukan dan tempat simbol yang disucikan orang-orang Islam ini.Tarekat Maulawiyah adalah tarekat yang dikenal baik dibarat maupun ditimur, karena kekhasan tarian Darwis berputarnya yang biasa dilakukan dengan durasi yang panjang. Syaikh Muhammad Kamal Al-Din Al-Hariri Zadah dalam Tibyan Wasail Al-Haqaiq Fi Bayani Salasil Al-Tharaiq menjelaskan tentang pondasi dasar tarekat Maulawiyya. Gerakan tari yang dilakukan para sufi Maulawi tidak lain adalah ekspresi kondisi ruhani para Darwisy/ sufi maulawi. Adakalanya juga gerakan tubuh ini bersifat spontanitas efek dari bersentuhan langsung dengan objek tertentu. Sebagi contoh tatkala membaca Al-Qur’an kadang seseorang bergoyang kekanan-kiri secara berulang-ulang ini adalah hasil dari peresapan dan hadirnya hati tatkala membacanya.
Copyrights © 2019