Secara umum kecendrungan beragama di Bali mengikuti agama yang dianut oleh orang tuanya, tidak berdasarkan pertimbangan-pertimbangan logis. Fenomena ini kenyataannya di Sege dan Muntigunung tidak mutlak, mengingat di kedua tempat tersebut terjadi konversi agama dengan pertimbangan-pertimbangan yang logis, kendatipun dengan intensitas perkembangan yang berbeda. Proses konversi agama di Sege sangat berbeda dengan di Muntigunung. Di Sege diawali dengan mempelajari sebuah Alkitab namun di Muntigunung diawali dengan iming-iming bantuan kebutuhan sandang dan pangan dari pihak misionaris. Di Sege faktor utama terjadinya konversi agama disebabkan oleh faktor srada, kekosongan srada dan perkawinan, namun di Muntigunung terjadi konversi agama disebabkan oleh faktor ekonomi, dadia/klen, desa adat dan peran misionaris. Konversi agama yang disebabkan oleh srada sangat kuat bertahan, namun kalau faktor ekonomi sangat mudah kembali pada agama semula.
Copyrights © 2010