Penentuan kualitas hasil pendidikan hampir selalu dilakukan dengan tes, baik tes buatan guru maupun dari institusi yang berwenang, seperti Depdiknas. Namun kualitasnya belum terjamin, karena sangat jarang dilakukan uji mutu, seperti kajian validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda. Di samping itu butir-butir tes tersebut disusun sering kali secara tergesa-gesa dan tidak memperhatikan komposisi materi pelajaran yang telah diajarkan oleh guru. Fenomena semacam ini terjadi pula pada Pendidikan Agama Hindu. Tulisan ini disajikan agar tersedia imformasi yang objektif, guna menjawab rumusan masalah;yakni: bagaimana cara mengkontruksi tes, menguji validitas, menghitung reliabilitas, tingkat kesukaran, dan menentukan daya beda tes hasil belajar Agama Hindu. Atas dasar data teoretis yang bersumber pada buku-buku yang ada hubungannya dengan konstruksi dan validasi tes, dapat disajikan simpulan sebagai berikut. (a). Konstruksi tes hasil belajar Agama Hindu dapat dilakukan dengan 8 tata langkah, yaitu:1) menetapkan tujuan tes, 2) analisis kurikulum, 3) menyusun tabel kisi-kisi, 4) menulis butir Tts, 5) analisis kualitatif, 6) analisis kuantitatif, 7) revisi butir tes, dan 8) skoring hasil tes. (b). Kegiatan validasi ada dua jenis, yaitu: validasi secara teoretis dan empiris. Validasi teoretis adalah proses validasi untuk mengetahui ketepatan alat ukur secara isi, konstruk teori dan bahasa. Dalam hal ini perlu masukan dari para pakar dalam bidang content, ahli tes, dan bahasa. Sedangkan validasi empiris adalah kegiatan pembakuan alat ukur berdasarkan hasil uji coba yang dianalisis dengan cara –cara yang relevan. Validasi empiris bertujuan untuk mengetahui kualitas alat ukur yang menyangkut validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran.
Copyrights © 2012