Lampuhyang
Vol 4 No 1 (2013)

Budaya Magibung Kearifan Lokal Masyarakat Karangasem dalam Menanamkan Rasa Kekeluargaan dan Persaudaraan

I Wayan Gama (Stkip Agama Hindu Amlapura)



Article Info

Publish Date
01 Jan 2013

Abstract

Bali terkenal dengan adat istiadatnya. Setiap kabupaten memiliki budaya dan tardisi yang unik. Begitu pula Kabupaten Karangasem memiliki budaya yang unik yaitu megibung. Megibung pada dasarnya merukan makan secara bersama-sama pada satu wadah yang beranggotakan maksimal delapan orang dan minimal dua orang. Megibung dilaksanakan ketika masyarakat melaksanakan yadnya. Bagi masyarakat yang tidak terbiasa dengan megibung tentu akan melihat cara amakan ini terasa aneh dan terkesan berebutan. Akan tetapi pada bila dicermati lebih jauh kesen kesen berebutan itu tidak pernah terjadi pada budaya makan megibung. Megibung sangat sarat dengan nilai filosopi. Anggota megibung berjumlah delapan orang yang duduk melingkar sesuai dengan arah dewata nawa sanga. Posisi ini melambangkan keseimbangan. Megibung dapat menciptakan keseimbangan dalam hidup. Dengan budaya megibung menanamkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Tidak jarang peserta mengibung baru kenel ketika itu kareana sama – sama menghadiri undangan. Megibung sarat dengan sejumlah nilai seperti nilai disiplin, pendidikan sosial, toleransi. Semua anggota duduk bersama tanpa membedakan warna dan status sosial. Sehungga megibung merupakan media menanamkan konsep menyama braya. Seiring dengan perubahan zaman budaya megibung juga mengalami perubahan misalnya dari olahan yang disajikan. Seiring zaman ada kesan megibung ingin ditinggalakan karena sejumlah faktor antara lain: kurang efisien, bertele-tele, kurang ekonomis, dan terkesan makanan tidak higienis. Berdasarkan kenyataan ini maka penulis dapat menyarankan hendaknya budaya megibung pada masyarakat Karangasem tetap dilestarikan dan pelaksanaannya disesuikan dengan kondisi zaman. Disamping itu pengolahan dalam penyiapan gibungan lebih memperhatikan kebersihan dan kesehtan makanan yang akan disajikan dalam acara megibung.

Copyrights © 2013






Journal Info

Abbrev

jurnallampuhyang

Publisher

Subject

Other

Description

Jurnal LAMPUHYANG Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura. Jurnal LAMPUHYANG terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari dan ...