Dalam bahasa Bugis, kelas kata nomina dapat berasal dari hasil penyesuaian bentuk turunan yakni melalui proses afiksasi secara derivatif. Sifat derivatif tersebut memiliki kaidah pembentukan kata sebagaimana yang terdapat dalam bahasa serumpun. Meskipun pembentukan nomina dalam bahasa Bugis memiliki kaidah pembentukan kata, namun proses tersebut memiliki ciri tertentu. Modifikasi model kerja proses pembentukan kata Halle (1973) dan Aronoff (1994) digunakan untuk melihat pola pembentukan nomina secara derivatif dalam bahasa Bugis. Analisis tersebut terdiri atas 5 tahap; 1) bentukan kata/daftar morfem (DM), 2) kaidah pembentukan kata (KPK), 3) kaidah penyesuaian/saringan (KP/S), (4) kaidah lanjutan (KL), dan 5) hasil/kamus (H/K). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perilaku kosakata atau hasil afiksasi dalam bahasa Bugis yang tidak mencapai lima tahap pembentukan kata atau tidak dimasukkan/digunakan secara lazim dalam bahasa Bugis. Hal tersebut memberikan aspek kesemestaan terhadap bahasa Melayu yang memiliki ciri morfologis serupa.
Copyrights © 2020