Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE

Pengaruh Bugis di Tanah Melayu dalam Perspektif Sejarah Sosial Politik

Saepuddin Saepuddin (STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau)



Article Info

Publish Date
25 Jun 2020

Abstract

Diaspora Bugis telah memberikan pengaruh terhadap situasi dan kondisi di daerah rantau. Dalam artikel ini, diaspora bugis di Tanah Melayu menjadi fokus kajian utama yang berkaitan dengan sebab-sebab kedatangannya di daerah Johor-Pahang-Riau-Lingga hingga bagaimana pengaruh setelah kehadirannya. Dari penelitian ini diketahui bahwa seba perantauan Bugis ke berbagai daerah di Nusantara kala itu ialah karena faktor politik dari dampak perjanjian Bogaya. Bagi orang Bugis, lebih baik mereka mencari penghidupan di daerah baru dari pada tunduk dan menjadi antek dan boneka Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kehadiran Daeng Rilakka beserta dengan anak-anak dan pasukannya di wilayah kerajaan Johor-Pahang-Riau ketika itu adalah bagian dari upayanya untuk mencari daerah perantauan yang sesuai. Pada saat itu, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah meminta bantuan kepada Daeng Rilakka untuk melawan Raja Kecil (Raja Kecik) yang dinilai merebut tahta kerajaan. Tawaran itu pun bersambut dan mengantarkan Sultan Sulaiman menduduki tahtanya dengan gelar Yang Dipertuan Besar dan menjadikan keturunan Bugis sebagai Yang Dipertuan Muda dengan pengikat sebuah ikrar yang dikenal dengan “Sumpah Setia”. Kemudian, terjadi perkawinan silang di antara kerabat dan sanak saudara kedunya hingga beranak pinak dan menyebabkan terjadinya adaptasi budaya, sosial dan politik. Sumpah setia itulah yang mengantarkan Bugis menjadi Melayu. The Bugis Diaspora has influenced the situation and conditions in the overseas areas. In this article, the diaspora bugis in Tanah Melayu becomes the main focus of the study relating to the causes of his arrival in the Johor-Pahang-Riau-Lingga area to how it was affected after his presence. From this research, it is known that the Bugis overseas to various regions in the archipelago at that time was due to political factors from the impact of the Bogaya agreement. For the Bugis, they are better off earning a living in new areas than submitting to and becoming Vereenigde Oostindische Compagnie's (VOC) henchmen and puppets. The presence of Daeng Rilakka along with his children and troops in the Johor-Pahang-Riau kingdom when it was part of his efforts to search for suitable overseas areas. At that time, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah asked for help from Daeng Rilakka to fight the Little King (Raja Kecik) who was judged to seize the throne. The offer was welcomed and led Sultan Sulaiman to occupy his throne with the title of the Great Lord and make the Bugis descendants the Young Entities with the binding of a pledge known as the "Faithful Oath". Then, cross-marriages occur between relatives and relatives of the two children to breed and cause cultural, social and political adaptation. It is this oath of loyalty that has brought Bugis into Malay.

Copyrights © 2020