Konsep safety school bermula dari fenomena kenakalan remaja, seperti, adanya peserta didik membolos, terlambat, merokok, narkoba, razia gawai, berkembangnya paham radikalisme, dan lemahnya pemahaman tentang wawasan kebangsaan. Untuk merespon fenomena tersebut, dua sekolah menengah pertama negeri di Lombok, Indonesia, hadir sebagai madrasah yang membangun pendidikan zero accident. Didasari dengan studi kasus kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana dua madrasah tersebut melakukan langkah prefentif terhadap kenakalan peserta didik melalui konsep safety school, sehingga tidak kehilangan identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai spritualitas. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dalam menjawab tantangan ini, dua madrasah permodelan tersebut telah menyusun dan mengembangkan inovasi safety school tidak hanya didukung inovasi fisik, seperti fasilitas CCTV, security, tembok pembatas, tata tertib yang ditentukan, dan penataan bangunan madrasah tetapi juga ditopang dengan inovasi nonfisik, yaitu: spritual learning. Penelitian ini juga mempromosikan bahwa spiritual learning pada kedua madrasah ini direalisasikan dalam seperangkat komponen program keagamaan, seperti shalat dhuha dan dhuhur berjamaah, gerakan bina lingkungan, program one day one ayat, penguatan tartil dan tahfiz al-Qur'an, program Imtaq (iman dan taqwa), community-based madrasah, dan pemanfaatan laboratorium agama.
Copyrights © 2019